BIENNALE JOGJA VX: Kegelisahan Asia Tenggara di Ketandan hingga Jogoyudan

Pillars Babel, instalasi karya Nutdanai Jitbunjong, yang dipamerkan di Biennale Jogja XV di Ketandan, Malioboro, Jogja. - Harian Jogja/Budi Cahyana
20 Oktober 2019 22:47 WIB Budi Cahyana Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJABiennale Jogja XV digelar di lima lokasi di DIY hingga akhir November nanti. Perhelatan ini menampilkan persoalan-persoalan yang tidak dibereskan di Asia Tenggara. 

Pada bangunan yang sudah lapuk di Ketandan, sepetak kampung pecinan di Malioboro, ekspresi-ekspresi kegelisahan dari Thailand ditampilkan. Di ruang gelap tak lebih dari sepuluh meter persegi yang sehari-hari ditutup rooling door violet, 112 batako ditumpuk melingkar nyaris menyentuh atap.

“Itu gambaran Menara Babel, menara yang dibuat manusia untuk mencapai surga. Ini lambang kecongkakan manusia,” kata Nutdanai Jitbunjong.

Di atas susanan batu itu, goni diikat menggelembung, dicantelkan di langit-langit.

“Dahulu, dua aktivis dibunuh, dada hingga lambung dibedah. Isi perut dikeluarkan. Tubuh mereka dikarungi kantong beras, dibuang di Sungai Mekong.”

Seniman kelahiran Bangkok, 28 tahun lalu ini, ingin menceritakan protesnya terhadap Pasal 112 dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Thailand. Pasal tersebut memenjarakan siapa saja yang menghina raja, ratu, dan pewaris kerajaan, dengan hukuman 15 tahun. Di bawah rezim militer, pasal tersebut membungkam banyak orang di Thailand dan memaksa sebagian yang lantang berbicara menjadi eksil.

Pillars Babel, demikian Nutdanai Jitbunjong menamai hasil karyanya, ada di etalase terdepan yang dipamerkan Khon Kaen Menifesto dalam Biennale Jogja XV Equator #5 2019 yang dihelat dari 20 Oktober sampai 30 November 2019.

Khon Kaen Manifesto adalah festival seni dari Khon Kaen, kota di bagian utara Thailand, yang dikurasi Thanom Chapakdee, seniman dan kritikus terkemuka Thailand.

“Kami menyampaikan pesan tentang identitas lokal dan situasi yang terjadi di bawah rezim militer,” ujar Thanom Chapakdee.

Khon Kaen selalu memakai gedung-gedung telantar, yang menjamur di Khon Kaen sejak krisis ekonomi 1997, sebagai ruang ekshibisi. Di Biennale kali ini, mereka menggunakan bangunan reyot yang dahulu menjadi Toko Emas Kendil dan sekarang sudah dibeli Pemda DIY untuk kegiatan kebudayaan.

Seniman-seniman Khon Kaen memanfaatkan bekas kakus, dapur, bilik-bilik kecil, hingga kamar di gedung dua lantai dengan ubin yang sudah ringkih dan banyak mengelupas untuk memamerkan video orang menyelinap dari kejaran tentara; foto perempuan telanjang dililit ular; potret penduduk minoritas di perbatasan Thailand-Laos (yang dimasukkan dalam gelas); televisi yang menayangkan burung dalam sangkar yang menonton siaran berita hasil sensor junta; pekerja migran yang hidup serba kekurangan; gambar keluarga kecil di bawah moncong meriam; hingga ratusan bungkus krayasart, kudapan dari kacang dan gula-gula yang dipersembahkan untuk lebih dari 100 korban tewas dalam Thammasat Massacre, salah satu fragmen paling gelap dalam sejarah Thailand, ketika ribuan mahasiswa Universitas Thammasat digebuk dan dihabisi serdadu dan kelompok paramiliter sayap kanan pada Oktober 1976.

“Situasi banyak tempat di Asia Tenggara hampir mirip. Begitu juga dengan Thailand dan Indonesia, ada banyak kesamaan pengalaman yang kita lalui, misalnya dalam persoalan hak asasi manusia,” ucap Thanom Chapakdee.

Taman Bermain

Tema di Biennale Jogja XV adalah Do We Live in the Same Playground? atau Apakah Kita Hidup dalam Taman Bermain yang Sama?.

“Penduduk Asia Tenggara dahulu hidup dengan cara yang sama sebelum kedatangan agama samawi dan kolonialisme yang kemudian melahirkan konsep negara-bangsa. Kami ingin merangkum persoalan pinggiran di kawasan ini, terutama masalah identitas seperti diskriminasi gender, ras, dan agama; konflik sosial politik; perburuhan; lingkungan; pelanggaran hak asasi manusia; hingga  praktik kesenian,” kata Akiq AW, kurator Biennale Jogja XV.

52 Seniman dari Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Filipina, Vietnam, Thailand, dan Singapura terlibat dalam Biennale Jogja XV.

Selain di bekas Toko Emas Kendil di Ketandang, festival ini digelar di Jogja National Museum (JNM), Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kampung Jogoyudan Gowongan, dan  Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKHH) UGM.

“Kami membawa kesenian ke kampung untuk menghindari jebakan white cube [istilah dalam seni kontemporer yang merujuk ruang khusus untuk menampilkan karya seni]. Kadang-kadang, ketidakadilan yang diekspresikan dalam kesenian ditampilkan dalam ruang khusus, sementara yang menonton justru pelaku-pelaku ketidakadilan,” ujar Akid.

Biennale Jogja XV dibuka Minggu (20/10/2019) sore di JNM. Di tempat itu, karya-karya seniman Asia Tenggara mengingatkan khalayak tentang ketidakberesan yang acap dilupakan dalam keseharian kita.

Moelyono, seniman yang sudah berkarya sejak 40 tahun silam memamerkan instalasi sebesar aula tentang Marsinah, buruh pabrik arloji yang dibunuh dan jasadnya dibuang dalam hutan pada 1993 ketika Indonesia masih diatur rezim militer Orde Baru. Yennu Ariendra, seniman muda dari Banyuwangi, menggelar pacul, tanah, beliung dengan latar belakang video laki-laki sepuh menari dengan setelan merah menyala, kupluk, dan kacamata hitam. Proyek ini berjudul Gruduk Merapi, ekspresi kesenian warga Ndeles, Klaten, Jawa Tengah, dalam menentang penambangan pasir.

Abdoel Semute bersama komunitas Paseduluran Djati Djoyodiningrat membuat Ruwat Kampung Mbangunrejo Surabaya, kisah tentang kearifan Jawa yang tergerus masyarakat religius.

Yoshi Fajar Kresno Murti, membuat hotel dari bambu di Kampung Jogoyudan. Dia menamainya dengan Hotel Purgatorio dan menyewakannya dengan tarif Rp50.000 per malam.

“Saya ingin menawarkan alternatif pembangunan hotel, bahwa hotel tidak harus dibangun dengan beton yang memakan biaya tinggi, baik secara ekonomi maupun sosial,” kata dia.

Seperti yang dibilang Akiq, penduduk Asia Tenggara dahulu hidup dalam cara yang sama, dan sekarang, sesuai kata Thanom Chapakdee, “Kita memiliki banyak kesamaan masalah.”

Selama 40 hari ke depan, Biennale Jogja XV merangkum problem-problem itu.