Angin Kencang Landa Lereng Merapi, Ini Dugaan Penyebabnya

Ilustrasi angin kencang. - JIBI
21 Oktober 2019 16:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sejak Minggu (20/10/2019) malam kawasan Gunung Merapi dilanda angin kencang dengan kecepatan mencapai 80 kilometer (km) per jam. Diduga, aktivitas vulkanis Merapi saat ini ikut memicu terjadinya angin kencang di lereng gunung berketinggian 2.930 mdpl tersebut.

Kepala Unit Analisa dan Prakiraan Cuaca BMKG Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta, Sigit Hadi Prakosa mengatakan angin kencang melanda di Kawasan Merapi baik di wilayah Kabupaten Magelang, dan Boyolali, Jawa Tengah, maupun di Sleman pada Minggu (20/10) hingga Senin (21/10). Angin yang terjadi, kata Sigit, bersifat sangat lokal.

Hal ini selain mengacu kepada konsentrasi wilayah kerusakan, kecepatan anginnya pun berbeda dengan dataran rendah lainnya.

Kecepatan angin di lereng Merapi, kata dia, bisa mencapai 80 km/jam (skala fujita) sedangkan pengukuran di Stasiun Klimatologi Mlati Jogja hanya 16 km/jam. "Kejadian di lereng Merapi di mana angin berhembus cukup kencang secara lokal. Angin berhembus lebih kencang di malam hari," katanya saat dihubungi Harian Jogja, Senin (21/10/2019).

Dia menjelaskan ada dugaan peningkatan aktivitas Merapi turut andil memicu kejadian bencana lokal angin kencang ini. Peningkatan aktivitas Merapi berupa Erupsi awan panas pada tanggal 14 Oktober diikuti guguran lava pada 15 Oktober 2019 telah menyebabkan peningkatan suhu permukaan di kawasan Puncak Merapi sehingga tekanan udara di wilayah ini menjadi cukup rendah.

"Dalam skala tertentu, tekanan udara permukaan berbanding terbalik dengan suhu udara permukaan. Suhu yang lebih panas akibat erupsi Merapi dan guguran lava yang terjadi dalam waktu yang cukup lama, kata Sigit, akan menurunkan tekanan udara permukaan sehingga udara mengalir ke wilayah dengan suhu lebih panas tersebut.

Adapun hujan dengan intensitas sedang sampai lebat disertai angin kencang pada Minggu (20/10) malam dipicu oleh anomali aliran angin lembah [angin mengalir dari lembah ke arah gunung] yang membawa udara dingin dan lembab sehingga terjadi kondensasi dan terbentuk awan kumulonimbus (Cb) di lereng pegunungan," paparnya.

Angin lembah, lanjut Sigit, biasanya terjadi siang hari saat bagian dataran mendapat pemanasan Matahari yang cukup. Kondisi berbeda terjadi di areal pegunungan, di mana secara umum puncak gunung suhu udara permukaan biasanya lebih dingin di bandingkan daerah di lereng. "Dampaknya, sirkulasi udara lokal cenderung bergerak turun [angin gunung]," katanya.

Saat kondisi di bagian atas gunung lebih panas maka sirkulasi lokal itu dapat berbalik sehingga menyebabkan angin lembah (dari atas ke bawah) menjadi lebih kuat dari biasanya. Pada topografi tertentu, hal ini dipengaruhi bentuk lereng dan permukaan pegunungan, angin lembah itu dapat membentuk pusaran-pusaran angin pada area dan skala yang lebih kecil.

"Kondisi ini seperti yang terjadi di Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah pada Senin [21/10/2019] pagi," katanya.

Kepala Stasiun Klimatiogi Mlati BMKG Jogja Reni Kraningtyas berharap atas peristiwa tersebut masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan. "Kami harap masyarakat tetap waspada dan mengikuti informasi terupdate dari BMKG," katanya.