Suarakan 7 Tuntutan, Sopir Grab Mogok Makan

Sejumlah driver mitra Grab berorasi dan menggelar aksi mogok makan di depan Kantor Grab Jogja, Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Sleman, Selasa (22/10/2019). - Harian Jogja/Fahmi Amhad Burhan
22 Oktober 2019 20:07 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Puluhan pengemudi Grab yang tergabung dalam Front Independent Driver Online Indonesia menggelar unjuk rasa dan mogok makan di depan Kantor Grab Jogja, Ruko Casa Grande, Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Sleman. Ada tujuh hal yang mereka tuntut dari aplikator, salah satunya pembukaan fitur aplikasi bagi Grabcar reguler di Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (YIA).

Presiden Front Independent Driver Online Indonesia, Sabar M Sihaloho mengatakan aksi tersebut digelar karena sebelumnya berbagai upaya terlebih dahulu sudah dilakukan. "Kami sudah melakukan beberapa langkah persuasif seperti membuat petisi yang didukung oleh komunitas di Jogja. Kami juga sempat beraudiensi beberapa pekan lalu, tetapi hasilnya deadlock. Tidak ada keputusan riil untuk memenuhi tuntutan kami," ujar dia saat ditemui di sela-sela aksi di depan Kantor Grab Yogyakarta, Selasa (22/10).

Dia mengatakan ada tujuh poin tuntutan yang ditujukan pada aplikator, antara lain penghapusan sistem skema yang dianggap diskriminatif dan tidak transparan dari pihak Grab, pembukaan fitur Grabcar bagi reguler di area bandara, penghapusan pungutan Rp2.000 per trip atau penghilangan potongan 20%. “Selain itu, aplikator harus menuntaskan pemutakhiran data (open suspend driver real individu); transparan dalam aturan putus mitra agar lebih adil; penghapusan potongan tambahan dari koperasi; dan pemerataan order pada sesama mitra,” ucap dia.

Sabar mengatakan penutupan fitur Grabcar reguler di YIA disebut mengacu pada kerja sama dengan bandara. Saat ini yang bisa beroperasi di YIA hanya Grab khusus bandara dan ojek online roda dua yang sudah bekerja sama dengan pengelola bandara.

Menurut dia, hal itu berarti Grab telah menganakemaskan salah satu kelompok driver dan memotong pendapatan driver lain yang seharusnya punya peluang sama dalam mencari nafkah di bandara.  "Konsumen tidak diberi kebebasan memilih lagi. Konsumen hanya bisa mengakses fitur Grab Airport dan roda dua. Ini kerja sama yang dipaksakan," ucap dia.

Padahal, menurut Sabar, skema tarif antara Grab Airport dengan Grabcar reguler jomplang. Tari paling murah Grab Airport adalah Rp70.000, sedangkan skema terdekat Grabcar reguler tarifnya Rp27.000.

Selain itu, sejumlah driver pun menuntut penghapusan potongan 20% atau menghilangkan potongan tarif 20% pada tiap transaksi trip. "Dengan dalih ditanggung konsumen, ada potongan lagi sebesar Rp2.000. Tetapi, Grab tidak memberitahukanya pada konsumen sama sekali. Sedangkan di lapangan, justru driver yang dirugikan, karena pada dasarnya hasil kerja keras kami yang diambil," ucap Sabar.

Perwakilan Manajemen Kantor Grab Jogja Yoga mengaku selalu membuka peluang diskusi dari berbagai tuntutan yang dilayangkan pada perusahaan. Namun, manajemen Kantor Grab Yogyakarta sejauh ini tidak bisa memberikan kebijakan dan memenuhi tuntutan para mitra secara langsung. "Kami hanya sebagai penyambung. Ke depannya tuntutannya kami akan sampaikan ke Pusat," ucap Yoga.