Pengusaha Baju Muslim di Bantul Raup Omzet Rp1 Miliar dalam Sebulan
Pada April tahun ini, omzet usahanya bahkan menembus Rp1 miliar dalam satu bulan, sementara omzet rata-rata bulanannya mencapai puluhan hingga ratusan juta
Ilustrasi. /Espos-M. Ferri Setiawan
Harianjogja.com, BANTUL- Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul terus menelusuri bangunan-bangunan sekolah yang dinilai tidak layak untuk aktivitas belajar mengajar dan rawan terhadap bencana.
“Kami selalu ada pendataan dalam kaitannya dengan kondisi sekolah-sekolah yang perlu direnovasi atau yang perlu direlokasi,” kata Sekretaris Disdikpora Bantul, Lies Ratriana, Rabu (6/11/2019).
Lies mengatakan Disdikpora sudah memiliki data sekolah-sekolah yang memang perlu perbaikan atau perlu relokasi karena ancaman bencana banjir dan tanah longsor. Data tersebut tersebar di sejumlah titik dan perlu diperbaharui terus. Harapannya data tersebut nanti, kata dia, akan menjadi acuan ketika ada program rehab bangunan dari berbagai sumber baik dari pemerintah maupun pihak swasta.
Pihaknya juga akan mengajukan beberapa bangunan sekolah untuk perbaikan tahun depan. Namun Lies belum bisa menyebutkan datanya karena masih dalam pembahasan di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bantul, “Ada yang diusulkan diperbaiki dengan APBD ada yang dengan Dana Alokasi Khusus,” kata Lies.
Namun sejauh ini, Lies mengklaim tidak ada sekolah di Bantul yang kerusakannya cukup parah yang berpotensi membahayakan siswa dan guru.
Sementara itu data dari Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, jumlah sekolah yang menjadi sekolah siaga bencana (SSB) atau sekolah aman bencana di Bantul hanya 19 sekolah. BPBD tidak bisa menetapkan sembarangan SSB karena terkait kesiapan pihak sekolah dan sarana prasarana serta dukungan anggaran.
Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto mengatakan beberapa syaat penetapan SSB, di antaranya adalah kelayakan gedung yang harus sesuai dan tahan terhadap gempa, memiliki tempat evakuasi, memiliki tim siaga bencana yang terdiri dari siswa, guru, dan masyarakat, memiliki dokumen kebencanaan, pernah mengikuti simulasi.
“Jadi ada manajemen kebencanaan di sekolah, ada sarana prasarana, dan ada pendidikan pencegahan pengurangan resiko bencana,” kata Dwi. “Kami juga terus memantau kondisi SSB agar terus meningkatkan kemampuan dalam menghadapi bencana dan melengkapi sarana dan prasarana,” kata dia.
Sementara itu 19 sekolah SSB adalah SMP 2 Imogiri, SD 2 Parangtritis, SMA 1 Kretek, SD IT Arraihan, SMA 2 Bantul, SMK 1 Sanden, SMP 1 Pandak, SD 1 Trirenggo, SMP 2 Dlingo, SMP 2 Kretek, SD Unggulan Aisyiyah, SMA 1 Srandakan SD Muhammadiyah Insan Kreatif, SDN Bungkus, SDN 1 Parangtritis, SMA 1 Imogiri, SMK Muhammadiyah 1 Bantul, SMA 1 Sanden, dan SMK Muhammadiyah Imogiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pada April tahun ini, omzet usahanya bahkan menembus Rp1 miliar dalam satu bulan, sementara omzet rata-rata bulanannya mencapai puluhan hingga ratusan juta
Jennifer Coppen dan Justin Hubner mengumumkan rencana pernikahan di Bali pada Juni 2026 dengan tiga konsep adat berbeda.
Ketimpangan antara jumlah advokat profesional dan masyarakat pencari keadilan di Indonesia masih menjadi isu sistem peradilan.
Kemkomdigi mengkaji aturan wajib nomor HP untuk registrasi akun media sosial guna memperkuat keamanan dan akuntabilitas ruang digital.
Seiring perkembangan teknologi ada metode yang disebut dengan backfilling untuk mengelola limbah tambang agar tak merusak lingkungan.
Pemkab Bantul memastikan tidak lagi membuka rekrutmen honorer baru dan fokus menyelesaikan tenaga non-ASN melalui skema PPPK.