Ini Alasan Warga Mangir Lor Bantul Menolak Upacara Keagamaan

Ilustrasi upacara Hindu. - Antara
13 November 2019 05:37 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Warga Dusun Mangir Lor, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Bantul, menolak upacara keagamaan yang digelar di rumah penduduk setempat, Utiek Suprapti.

Warga mengaku tak mempermasalahkan penggunaan rumah milik keturunan Ki Ageng Mangir tersebut untuk beribadah.N amun, mereka menolak upacara di rumah Utiek mendatangkan tamu dari luar desa.

Nek dienggo dewe [kalau digunakan untuk sendiri] enggak masalah tapi kalau mendatangkan dari luar itu yang masalah. Intinya itu rumah, bukan tempat ibadah,” kata Agung Warsito, salah satu warga Mangir yang memprotes acara keagamaan yang digelar Utiek, Selasa (12/11/2019).

Agung mengatakan ada puluhan penduduk Mangir Lor yang menolak penggunaan rumah Utiek sebagai rumah ibadah warga luar desa. Warga, kata dia, emosi setelah tamu dari berdatangan ke rumah Utiek. Namun, aparat kepolisian dan TNI menjaga warga setempat sehingga tidak sampai masuk ke halaman rumah Utiek.

Ia mengatakan sudah beberapa kali acara keagamaan yang digelar Utiek mendatangkan dari luar wilayah. Ia tidak mengetahui secara mendalam upacara keagamaan tersebut, tetapi warga merasa terganggu dengan kedatangan tamu-tamu dari luar desa, sementara kegiatan tersebut, menurut dia, tidak mengantongi izin.

“Akhirnya warga buat kesepakatan. Kalau enggak ada izin [penyelenggaraan upacara keagamaan], tamu dari luar enggak boleh. Kalau Mbak Utiek sendiri enggak apa-apa,” kata Agung.

Upacara tersebut dihentikan di tengah jalan setelah polisi berbicara kepada Utiek.

Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi Sulistiyono mengatakan polisi harus menjaga situasi agar tetap kondusif. Dia membantah polisi membubarkan upacara keagamaan.

“Tidak ada yang menghentikan, kami sampaikan, ‘Selesaikan dulu kegiatan keagamaan.’ Setelah selesai kami sampaikan situasi masyarakat seperti ini, masyarakat ada yang mempertanyakan, kami berikan pertimbangan [upacara] dipercepat atau tidak usah diperpanjang,” kata Kapolres Bantul, AKBP Wachyu Tri Budi Sulistiyono, Selasa malam.

“Tetapi yang disampaikan pendeta [upacara] sudah selesai,” kata Wachyu.

Wachyu mengatakan aparat Polres Bantul bersama TNI berada di lokasi kejadian untuk mengamankan semua warga masyarakat dan menjaga situasi tetap kondusif.

Menurut Kapolres, ada warga masyarakat setempat yang mempertanyakan kejelasan izin tempat ibadah dan izin kegiatan tersebut.

“Saya sendiri belum mengetahui upacara yang digelar tersebut terkait apa.”

Polres Bantul akan mengundang Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Bantul, Kementerian Agama, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), pemilik rumah, dan warga setempat untuk membicarakan persoalan tersebut.

Utiek mengatakan upacara di rumahnya digelar untuk memperingati wafatnya Ki Ageng Mangir. Dia menyebutnya sebagai Piodalan. Piodalan adalah upacara yang berakar dalam tradisi Hindu Bali.

“Upacara ini mendoakan leluhur setahun sekali, atau istilahnya haul. Upacara ini sudah digelar rutin tujuh kali,” kata Ananda Ranu Kumbolo, anak Utiek Suprapti, pemilik rumah tempat Piodalan dilaksanakan.

Upacara tersebut sedianya berlangsung selama dua sesi sejak pukul 13.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB.  Upacara tak hanya dihadiri pemeluk Hindu, tetapi juga penganut Buddha Tantrayana Kasogatan, dan berbagai aliran kepercayan seperti Sunda Wiwitan.

Nanda mengatakan upacara dengan berbagai sesaji itu awalnya berjalan dengan baik sejak pukul 13.00 WIB yang diisi dengan doa-doa.

Di sela-sela acara, warga berkumpul di sekitar jalan masuk lokasi acara dan mencegat tamu-tamu dari berbagai daerah yang akan datang ke lokasi upacara. “Ketika ada umat Hindu mau masuk ke tempat kami, kendaraan dicegat dan disuruh pulang,” kata dia.

Kemudian sekitar pukul 15.00 WIB, datang Kapolsek Pajangan AKP Sri Basariah untuk menyampaikan keberatan warga atas upacara keagamaan tersebut. Dia menganggap situasi sudah tidak kondusif. Kapolsek meminta panitia acara menyudari prosesi upacara keagamaan. Permintaan itu dipenuhi panitia.

Pada pukul 15.45 WIB, upara diakhiri ketika dipimpin Padma Wiradrama, Pandita Buddha Tantrayana Kasogatan. Upacara tersebut belum selesai. Sementara, upacara Hindu yang dipimpin sedianya dipimpin Ida Ratu Begawan Manuaba urung dilaksanakan. Begitu juga doa dari Sunda Wiwitan.

Menurut Nanda, upacara mendoakan leluhur selalu mengundang tamu dari luar Bantul. Panitia juga sudah memberitahukan acara tersebut kepada warga, pengurus RT hingga kepolisian.

“Pengurus RT sudah mengizinkan karena tetangga kanan kiri sudah tidak mempersoalkan.”

Namun, prosedur itu terganjal di meja Kepala Dusun Mangir Lor.

“Alasannya [kepala dusun] ingin mengayomi masyarakat karena banyak warga yang tidak setuju,” ujar Nanda.

Utiek Suprapti mengatakan upaya mengurus izin rumah ibadah selalu ditolak oleh kepala dusun.

Utiek lahir dan menetap di Dusun Mangir Lor hingga lulus SMA. Utiek adalah keturunan Ki Ageng Mangir. Ia kemudian pindah ke Bandung Jawa Barat dan kembali lagi ke Mangir Lor pada 1998. Perempuan lulusan salah satu universitas Islam ini lantas pindah kepercayaan ke Hindu. Baginya, keyakinan yang dia anut merupakan amanat leluhur yang akan dia rawat dan kembangkan di tempat kelahirannya.

Meski Utiek beragama Hindu, banyak saudaranya dan tetangganya yang muslim. Sejauh ini ia merasa hubungan dengan saudara dan tetangga yang berlainan agama tidak masalah.

“Justru kami saling membantu dan menghormati ketika ada acara.”

Ia heran dengan warga yang menolak Piodalan. “Saya mohon difasilitasi dan sosialisasi tentang kdeberadaan kami, sejak sembilan tahun lalu belum pernah difasilitasi pemerintah,” ujar Utiek.

Menurut dia, sudah empat kali rumahnya didemo sejak rumahnya sering dipakai untuk beribadah pemeluk Hindu.