Pungli Bikin Pelaku Wisata di Gunungkidul Resah

Gua Pindul, Gunungkidul. - JIBI
17 November 2019 09:17 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Kasus pungutan liar (pungli) di objek-obbek wisata di DIY meresahkan para pelaku wisata di Gunungkidul. Salah satunya terkait adanya laporan ke Dinas Pariwisata Gunungkidul dari organisasi pramuwisata di Indonesia soal adanya paksaan pengantaran dengan menetapkan tarif yang fantastis.

Ketua Pokdarwis Watu Payung Dusun Turunan, Desa Girisuko, Kecamatan Panggang, Gunungkidul, Iwan Saputra merasa kaget jika saat ini masih ada saja oknum-oknum yang sengaja berbuat sesuatu demi keuntungan pribadinya. Menurutnya, salah satu penyebab hadirnya pungli yakni adanya permasalahan internal.

"Salah satunya [karena] ada perselisihan internal di antara mereka, karena mungkin ada yang masuk dalam struktur pengelola dan ada yang tidak," kata Iwan saat dihubungi Harianjogja.com, Sabtu (16/11/2019).

Mereka yang tidak masuk dalam struktur pengurusan lantas membuat masalah dengan melakukan pungli. Ada pula pihak lain yang lantas melaporkan pada pihak terkait. "Ada yang senang ada yang tidak, nah yang tidak senang karena tidak masuk struktur pengelola, kadangkala mereka membuat masalah pungli dan melapokan sana-sini," ujarnya.

Selain itu, lanjut Iwan, munculnya pungli karena masalah perizinan. Para pelaku wisata belum mengantongi izin untuk mengelola wisata yang mereka andalkan. Sejumlah objek wisata di DIY memang tidak menggunakan tanah pemerintah, karenanya, mereka merasa tak perlu izin. Hal ini memunculkan laporan yang dianggap pungli ke pihak-pihak terkait dan ditindaklanjuti.

"Perizinan [mendirikan wisata] belum jelas, lalu dianggap pungli karena menarik retribusi, dan ada yang melaporkan ke dinas," kata dia.

Iwan memastikan objek wisata Watu Payung memiliki struktur pengelola yang baik. Untuk pungli, Iwan memastikan 100% tidak akan terjadi di lokasi tersebut. Watu Payung merupakan objek wisata Geoforest yang terletak di belakang bukit Dusun Turunan.

Pengurus Pokdarwis Pasar Destinasi Digital Telaga Jonge, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul Yudhi Prasetyo sangat menyayangkan ketika pungli masih saja terjadi. Ia meminta kepada pihak-pihak terkait untuk menindak tegas para pelakunya.

"Pungli itu kan cara mudah untuk mendapatkan uang tentunya, dengan mencari celah yang bisa di masuki, contohnya ya seperti memanfaatkan bus atau wisatawan yang belum hafal jalan," ujarnya.

Ia meminta agar para pelaku pungli atau yang sedang berencana melakukan untuk bisa sadar. Jika tidak sadar, pihaknya meminta kepada pihak yang berwenang untuk menindak tegas. Menurutnya, hal itu bisa merusak dan merugikan banyak orang terutama para pelaku wisata dan citra wilayah.

"Pemerintah juga perlu menyediakan guide-guide yang siap melayani, menjeleskan dan mengantar ke tujuan objek-objek wisata. Jadi enggak ada lagi kasus pungli seperti itu," kata dia.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul, Asty Wijayanti mengungkapkan pihaknya  pernah mendapatkan laporan melalui media sosial tentang pungli dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). Dugaan pungli tersebut dalam bentuk jasa pengantaran menuju objek-objek wisata di Bumi Handayani dengan memasang tarif imbalan.