2.235 KK di Bantul Masih Tinggal di Zona Merah Rawan Tanah Longsor

Ilustrasi tanah longsor - Okezone
19 November 2019 16:47 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY, kata dia, saat ini memang sudah memasuki masa pancaroba. Pada akhir bulan, diperkirakan mulai turun hujan dengan intensitas sedang.

Itulah sebabnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul pun mengantisipasi adanya potensi tanah longsor saat musim hujan tiba dengan mengaktifkan 20 pos pantau yang diisi oleh para sukarelawan dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di sejumlah desa. Mereka akan memantau kondisi tanda-tanda longsor secara fisik, salah satunya lewat rekahan tanah.

"Masing-masing sukarelawan antarpos pantau juga akan terus berkoordinasi untuk saling melaporkan jika terjadi potensi bahawa longsor, terutama yang mengancam warga. Sebab saat ini masih ada sekitar 2.235 kepala keluarga yang tinggal di zona merah rawan longsor," ucap Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto, Selasa (19/11/2019).

Berdasarkan data Pusdalops BPBD Bantul, selama masa pancaroba tahun lalu ada ratusan bencana alam yang terjadi, di antaranya angin kencang di 373 titik, tanah longsor di 23 titik, dahan patah tiga titik, dan pohon tumbang 80 titik. Adapun sebaran kejadian bencana terbanyak di wilayah Piyungan, Dlingo, Pleret, Imogiri, Pundong, dan Jetis.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIY Reni Kraningtyas, sebelumnya mengatakan angin kencang bisa saja terus terjadi selama akhir Oktober hingga November. Sebelum musim hujan ditandai dengan musim pancaroba. Ketika musim pancaroba, maka angin kencang dan angin puting beliung bakal sering terjadi. “Angin akan berhembus lebih kuat dari biasanya. Bahkan bisa lebih dari 25 knot atau lebih dari 45 kilometer per jam,” kata Reni.