Mako Brimob Gunungkidul Mulai Dibangun, Ditarget Rampung Desember
Mako Brimob Polda DIY di pesisir Gunungkidul mulai dibangun. Sebanyak 18 rumah dinas ditargetkan rampung sebelum akhir Desember 2026.
Foto ilustrasi. /Bisnis-Triawanda Tirta Aditya
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Komisi D DPRD Gunungkidul menilai kenaikan iuran BPJS Kesehatan dapat membebani keuangan Pemkab. Hal ini terlihat dari pagu anggaran yang disedikan naik dari Rp40 miliar menjadi Rp80,1 miliar. Praktis untuk mencukupi pembiayaan selama satu tahun, maka Pemkab harus mengurangi postur anggaran di kegiatan yang lain.
Anggota Komisi D DPRD Gunungkidul, Tejo Ariwibowo, mengatakan kenaikan iuran BPJS Kesehatan mulai berlaku di awal tahun depan. Hal ini pun berdampak terhadap anggaran Pemkab karena menanggung iuran bagi keluarga kurang mampu sebanyak 158.996 jiwa.
Menurut dia, dengan kenaikan iuran maka tanggungan menjadi dua kali lipat karena pagu anggaran yang disediakan ikut membengkak. Sebagai gambaran di tahun ini alokasi hanya di kisaran Rp40 miliar, sedangkan untuk tahun depan pagu anggaran sudah menembus angka Rp80.133.984.000. “Jumlah ini sangat besar dan Pemkab wajib menyediakannya,” katanya kepada Harian Jogja, Rabu (20/11/2019).
Tejo mengungkapkan jumlah ini berpotensi membebani keuangan daerah yang kemampuannya masih sangat terbatas. Oleh karenanya, harus ada solusi sehinggga pembiayaan ini bisa terlaksana dengan baik. “Beban itu pasti akan mengganggu kegiatan lain di Pemkab karena banyak pengurangan agar pagu anggaran untuk iuran bisa terpenuhi,” katanya.
Hingga saat ini kenaikan iuran BPJS Kesehatan masih menjadi polemik. Di DPR RI ada wacana untuk kelas tiga tidak dinaikkan. Meski demikian, kata Tejo, upaya tersebut masih sebatas wacana karena tidak ada payung hukum yang dibuat untuk mewujudkan rencana tersebut. “Kalau tidak ada aturan baru, maka yang kelas tiga tetap ikut naik sehingga berdampak pada pagu anggaran yang disediakan Pemkab,” katanya.
Anggota DPRD Gunungkidul dari Fraksi PKS, Ari Siswanto, mengatakan kenaikan iuran BPJS Kesehatan tidak hanya membebani keuangan daerah, tapi juga masyarakat secara umum. Oleh karenanya, harus ada solusi agar tidak ada yang menjadi korban akibat kebijakan ini. “Kalau kami di PKS menolak adanya kenaikan iuran,” katanya.
Untuk mengefektifkan kepesertaan, Pemkab harus melakukan validasi ulang terkait dengan data penerima bantuan. Verifikasi ini dibutuhkan agar data penerima manfaat bisa lebih tepat sasaran. “Bantuan harus efektif dan tepat sasaran. Jadi, validasi ulang secara berkala sangat dibutuhkan,” kata Wakil Ketua Komisi D DPRD Gunungkidul ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Mako Brimob Polda DIY di pesisir Gunungkidul mulai dibangun. Sebanyak 18 rumah dinas ditargetkan rampung sebelum akhir Desember 2026.
Nguyen Xuan Son cedera hamstring dan absen 4-6 pekan. Striker Vietnam itu harus mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026
Cek harga emas Antam, Galeri24 dan UBS di Pegadaian beserta harga buyback dalam berbagai ukuran, dari 0,5 gram hingga 1.000 gram.
Kata oke ternyata punya sejarah sejak 1839. Istilah OK pertama kali tercatat di Boston Morning Post sebagai singkatan jenaka.
AI mengubah pendidikan tinggi Tiongkok. Ribuan jurusan ditutup atau ditunda, sementara kampus membuka program chip, robotika, dan AI.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang secara resmi meluncurkan perluasan gerakan “Blonjo Warung Tonggo”.