Pererat Solidaritas, Kopdar Safety With Honda BeAT Hadir di Yogyakarta
Melalui tajuk “Kopdar Safety With Honda BeAT”, acara ini sukses menggandeng 30 bikers dari Honda BeAT Street Club Yogyakarta (HBSC YK) dan Team Gabut Yogyakarta
Salah satu lokasi digelarnya Festival Budaya Kotagede./Media Digital
Harianjogjacom, JOGJA—Festival Budaya Kotagede dibuka dengan menampilkan karnaval bregada di Jalan Tegalgendu, Kecamatan Kotagede, Kota Jogja, Jumat (22/11/2019). Kegiatan tersebut digelar dalam rangka mengedukasi masyarakat terkait dengan pentingnya warisan budaya dan cagar budaya.
Selain kirab bregada yang digelar saat pembukaan, Kamis (22/11), Festival Budaya Kotagede diisi sejumlah kegiatan antara lain, parade gamelan bertajuk Bende Mataram di Pendopo Kajengan, pameran bazaar potensi lima wilayah di Kawasan Watu Gilang dilanjutkan dengan pentas seni budaya pada Sabtu (23/11).
Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY Aris Eko Nugroho menjelaskan festival tersebut merupakan ajang pengenalan dan edukasi tentang arti pentingnya warisan budaya dan cagar budaya yang harus dipelihara, dikembangkan serta dilestarikan. Hal itu sebagai implementasi niat bersama untuk mewariskan pengetahuan tentang warisan budaya dan cagar budaya.
Dengan begitu diharapkan terjadi kesinambungan dan transfer kepiawaian segala aspek tentang warisan budaya dan cagar budaya. “Kami berharap dengan pendekatan dan metode yang tepat, sekaligus menarik bagi masyarakat umum dan generasi muda, agar tetap mencintai, ikut memelihara dan melestarikan warisan budaya dan cagar budaya,” ucapnya Jumat (22/11).
Aris menyatakan Kotagede memiliki sejarah panjang yang sangat penting sebagai salah satu lokasi kerajaan yang bercorak Islam di Pulau Jawa. Kotagede merupakan pusat kerajaan Islam sebelum akhirnya dipindah ke Kerto Pleret, Kartasura hingga akhirnya melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Kerajaan Mataram pada masanya telah menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya termasuk Madura. Sebagai Ibu Kota Mataram Islam, tentu banyak ditemukan peninggalan kebudayaan yang bersifat tangible [kasat mata] maupun intangible [tak kasat mata] yang sampai saat ini terus diupayakan pelestariannya.
“Selain itu ada pula beberapa aset di Kotagede dan kami berharap bisa dimanfaat bersama-sama, kami juga melihat potensi di Kotagede sangat besar, sehingga kami berharap ada kesamaan langkah antara Pemda DIY, Pemkot Jogja dan tentu saja dengan masyarakat agar semua bisa menikmati masa kejayaan dari Kotagede pada masa lampau,” katanya.
Dia menjelaskan secara administratif, Kotagede memiliki lima kelurahan yaitu Prenggan, Purbayan, Rejowinangun, Singosaren dan Jagalan. Itulah sebabnya, dia berharap bisa mengenalkan sarana menggalakkan potensi budaya kepada masyarakat luas.
Lewat festival itu pula, dia juga berharap mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan budaya dan cagar budaya yang ada di Kotagede serta nilai yang terkandung di dalamnya kepada masyarakat luas.
“Kami menyambut baik dan apresiasi setinggi-tingginya dan juga ucapan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu terlaksananya kegiatan festival Budaya Kotagede dengan mengambil tema Kejayaan Mataram dalam Festival Budaya Kotagede kali ini,” paparnya.
Dia berharap kegiatan itu bisa menjadi momentum untuk menjadikan semangat yang kuat dalam melestarikan warisan budaya dan cagar budaya di masyarakat. Dengan Kotagede dan sekitarnya bisa berkembang dengan Pleret, sehingga ke depan bisa memberikan dampak terhadap pariwisata.
Festival tersebut diharapkan bisa menarik minat wisatawan untuk datang ke Kotagede. “Kebetulan di Kotagede ini ada rumah kalang yang sudah menjadi milik Dinas Kebudayaan DIY, ini akan menjadi living museum Kotagede, kami ingin segera terwujud sehingga besok sudah ada mini museum di rumah kalang ini,” ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Melalui tajuk “Kopdar Safety With Honda BeAT”, acara ini sukses menggandeng 30 bikers dari Honda BeAT Street Club Yogyakarta (HBSC YK) dan Team Gabut Yogyakarta
DIY Open Karate 2026 di Jogja diikuti 1.700 atlet dari 90 kontingen. Panitia juga menunggu peserta dari negara Asia Tenggara.
Polresta Jogja menggelar rekonstruksi kasus dugaan kekerasan terhadap anak di Daycare Little Aresha, Selasa (9/6/2026). Sebanyak 13 tersangka dihadirkan.
Rupiah menguat ke Rp17.900 per dolar AS. Kenaikan harga Pertamax dan suku bunga BI dinilai memberi sentimen positif bagi pasar.
China mengecam keputusan AS memasukkan Alibaba, BYD, dan Baidu ke daftar perusahaan yang dianggap mendukung militer China.
Sleman Temple Run 2026 buka pendaftaran early bird mulai Rp300 ribu. Rute baru berpeluang melintasi kawasan Keraton Ratu Boko.