Selama 2019, Penderita DBD di Gunungkidul Menonjak 2 Kali Lipat

Ilustrasi nyamuk DBD - JIBI
26 November 2019 19:27 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Selama 2019 kasus demam berdarah dengue (DBD) di Gunungkidul melonjak hingga dua kali lipat. Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, mulai Januari hingga pertengahan November tercatat ada 424 orang yang terjangkit, sementara pada 2018 ada 124 orang yang terjangkit.

Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawaty, mengungkapkan kasus DBD yang terjadi tahun ini terbilang berbeda, meskipun musim kemarau tetapi banyak warga yang terjangkit penyakit yang dipicu nyamuk aedes aegypti itu. Kebersihan lingkungan tempat tinggal, menurut Dewi, menjadi salah satu faktor pemicu merebaknya demam berdarah. “Penyebaran nyamuk kemungkinan berkaitan dengan masyarakat yang menghemat dan menampung air, sehingga air sangat disayang-sayang hingga akhirnya muncul jentik nyamuk,” kata dia, Selasa (26/11/2019).

Selain itu, saat ini Gunungkidul juga memasuki siklus lima tahunan lonjakan demam berdarah sehingga kenaikan jumlah penderita cukup drastis. "Selama dua tahun yakni 2017 dan 2018 angka penderita rendah, tahun ini naik dua kali lipat," kata Dewi.

Untuk mencegah penyebaran nyamuk DBD, Dewi mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Harapannya, jika itu upaya itu dilakukan secara serentak maka bisa menangkal penyebaran nyamuk DBD.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Gunungkidul, Ari Siswanto, mengungkapkan kesadaran masyarakat di Bumi Handayani terkait dengan dampak penularan nyamuk DBB masih sangat kurang. Ia menilai faktor kurangnya kesadaran tersebut berakibat meningkatnya kasus DBD di tahun ini. Oleh karena itu, ia mengimbau agar masyarakat bisa terus meningkatkan kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan.

"Kami mengimbau agar masyarakat meningkatkan kesadarannya terkait dengan antisipasi penyakit DBD, salah satunya menghidupkan semangat gotong-royong membersihkan lingkungan," kata Ari, Selasa.

Tak hanya itu, Komisi D juga meminta kepada Dinas Kesehatan Gunungkidul agar lebih maksimal lagi dalam menyosialisasikan upaya pencegahan penularan nyamuk pemidu DBD yang berimbas pada korban yang meningkat. Peran juru pemantau jentik (Jumantik) di setiap rumah juga wajib diintensifkan dalam memantau keberadaan jentik nyamuk yang mudah berkembang. "Peran para jumantik harus lebih masif dan terukur," ujarnya.

Menurut Ari, dengan meningkatnya kesadaran warga dalam menjaga lingkungan, jajarannya optimistis kasus DBD di Bumi Handayani bisa terus ditekan. "Jika kesadaran muncul dari semua unsur, baik dinas maupun masyarakat, Insyaallah kasus DBD bakal turun," tutur Ari.