Berburu dan Menikmati Puthul saat Senja Hari

Beberapa warga Desa Ngoro-Oro, Kecamatan Patuk, berburu puthul, Sabtu (30/11/2019)./Harian Jogja - Muhammad Nadhir Attamimi
01 Desember 2019 23:07 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Gunungkidul tak hanya menyimpan keindahan alam yang mampu menyegarkan mata. Kabupaten yang berada di sisi timur wilayah DIY ini juga memiliki berbagai macam kuliner yang menggiurkan, mulai dari makanan khas yang biasa dikonsumsi masyarakat, hingga kuliner ekstrem yang tak sembarang orang doyan mencicipinya.

Selain deretan kuliner ekstrem seperti belalang goreng, ungkrung alias kepompong ulat jati, kelelawar hingga laron yang selama ini sudah banyak dikenal, ada sajian lain yang tak kalah ekstrem untuk disantap, yakni puthul. Serangga kecil yang lebih mirip dengan kumbang ini banyak ditemukan menjelang musim hujan seperti saat sekarang ini. Di Gunungkidul, hewan bernama ilmiah phyllophaga hellery ini banyak diburu saat senja, baik di sekitar rumah maupun di dekat hutan.

Edy, warga Desa Ngoro-Oro, Kecamatan Patuk, mengungkapkan puthul banyak dijumpai selepas Magrib. Saat itu puthul mulai mencari makanan di pepohonan sekeliling rumah, khususnya di daun pisang. Mereka memakan daun pisang hingga habis. Karena sifatnya yang merusak, hewan itu dianggap sebagai hama oleh masyarakat.

Bukan perkara sulit untuk menangkap puthul di pekarangan rumah. Selain karena populasinya yang cukup banyak, serangga ini umumnya tidak menakutkan dan sangat mudah ditangkap. Hanya bermodalkan lampu senter, botol plastik dan ketajaman penglihatan, puthul gampang ditangkap dan siap dinikmati.

"Biasanya mereka hinggap di daun pohon di dekat permukiman, tinggal disorot lampu, ditangkap dan dimasukkan ke dalam botol plastik, gampang mencarinya," kata Edy kepada Harian Jogja, Sabtu (30/11/2019).

Edy menuturkan puthul goreng sangat pas dinikmati saat masih panas. Saat itu puthul masih renyah dan garing. "Pokoknya kalau makan puthul paling enak setelah digoreng, masih panas dan hangat, kalau sudah dingin sudah tidak enak," ujarnya.

Selain menyantap saat masih panas, serangga ini sangat pas disantap menggunakan nasi putih dan sambal petai, terlebih di Desa Ngoro-Oro bukan perkara sulit untuk mendapatkan petai. "Makannya pakai nasi dan sambal petai, nikmatnya luar biasa," ujarnya.

Menurut edy, puthul banyak mengandung protein. Selain dikonsumsi sendiri, puthul juga banyak diperjualbelikan. Dalam dunia pertanian, puthul merupakan hama yang menjadi musuh besar petani. Saat berbentuk larva, hewan yang merupakan famili Scarabaeidae sub famili Melolonthinae dari ordo Coleoptera ini aktif menyerang akar tanaman padi. Puthul bertelur di dalam tanah, kemudian menetas menjadi uret bersamaan dengan perkembangan tanaman padi.