Profil Aris Prasena, dari Bappeda hingga Pimpin Dinas PUP-ESDM DIY
Aris Prasena resmi menjadi Kepala Dinas PUP-ESDM DIY. Simak profil, pendidikan, perjalanan karier, hingga tugas strategisnya.
Salah satu narasumber memaparkan materinya dalam Diskusi Manajemen Pengelolaan Air, Mengatasi Masalah Kekeringan di DIY di Kantor DPD DIY, Jogja, Senin (2/12/2019)./Harian Jogja-Sunartono
Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah wilayah terdampak kekeringan di DIY dinilai memiliki potensi sumber daya air yang besar namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Pemda DIY menjanjikan pembangunan sumur bor di 144 titik selesai pada 2022 dengan target bebas dropping air.
Ahli Hidrogeologi Fakultas Teknik UGM Heru Hendrayana mengatakan DIY memiliki sumber daya air tanah yang besar tetapi bukan berarti bisa dimanfaatkan seenaknya, namun harus melalui pengelolaan yang baik. Selama ini sejumlah titik kekeringan lantaran banyak potensi yang belum dikelola dengan baik.
“Sehingga seolah-olah hanya dropping air solusinya [saat terjadi kemarau]. Padahal masih ada cara lain seperti membangun sumur bor kemudian dibuatkan penampungan di tempat ketinggian lalu dialirkan ke rumah-rumah warga,” ucap dia dalam Diskusi Manajemen Pengelolaan Air, Mengatasi Masalah Kekeringan di DIY di Kantor DPD DIY, Jalan Kusumanegara, Senin (2/12/2019).
Dalam dikusi itu dihadiri sukarelawan serta pejabat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten/kota se-DIY serta sejumlah ahli bidang hidrologi tesebut mengaku pernah mempraktikkan cara pembuatan sumur bor secara sederhana di kawasan terdampak kekeringan di Borobudur, Jawa Tengah.
Hanya dengan sumur bor berkedalaman 40 meter dengan biaya sekitar Rp25 juta namun menjadi solusi bagi warga. “Pembangunan sumur bor jangan dibayangkan seperti PDAM atau industri sehingga harus izin. Tidak. sumur yang sederhana saja tetapi air bisa keluar sekitar 30 meter, kemudian air diangkat ke lokasi lebih tinggi, sehingga bisa dialirkan ke rumah warga,” ucap dia.
Anggota DPD RI Afnan Hadikusumo menyarankan kepada Pemda DIY maupun kabupaten/kota untuk merespons kajian ahli terkait besarnya potensi sumber daya air di wilayah terdampak kekeringan di DIY. Pengelolaan bisa dilakukan oleh masyarakat secara mandiri atau dikelola pemerintah melalui PDAM.
Selain itu harus ada regulasi yang mendukung untuk pengelolaan air tanah yang akan didistribusikan untuk masyarakat. Oleh karena itu pihaknya mendukung jika Pemda DIY membangun sumur bor untuk mengatasi masalah kekeringan yang selama ini hanya ditangani melalui pengedropan. “Sebenarnya ada bak penampungan di setiap dusun untuk pengelolaan air tanah, tetapi harus ada kesadaran masyarakat untuk memelihara penampungan air tanah, karena selama ini belum dikelola dengan baik,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana menjelaskan Pemda DIY telah melakukan sejumlah kajian dengan melibatkan ahli terkait potensi pembuatan sumur bor untuk mengatasi kekeringan. Adapun ditarget hingga 2022 sebanyak 144 titik sumur bor dibangun di wilayah terdampak kekeringan. “Kami berharap ada akselerasi dengan dukungan DPD maupun DPRD supaya kebutuhan air di masyarakat bisa terpenuhi,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Aris Prasena resmi menjadi Kepala Dinas PUP-ESDM DIY. Simak profil, pendidikan, perjalanan karier, hingga tugas strategisnya.
Jadwal Kereta Bandara YIA Kulonprogo hari ini tersedia untuk layanan Reguler dan Xpress. Cek jam keberangkatan YIA-Tugu Jogja dan sebaliknya.
Jadwal KRL Palur-Jogja Kamis 20 Agustus 2026 tersedia dari pagi hingga malam. Simak waktu keberangkatan di setiap stasiun.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 20 Agustus 2026 tersedia pagi hingga malam. Cek waktu keberangkatan dari tiap stasiun menuju Palur.
Sarana olahraga Sleman masih terkendala. Fasilitas dayung dan renang belum sesuai kebutuhan atlet menjelang Porda DIY XVIII 2027.
Pemda DIY menyalurkan Rp1 miliar untuk NTT terdampak gempa dan membantu mahasiswa asal NTT di Jogja melalui pangan serta keringanan kuliah.