Ini Keunikan Terowongan Bandara Kulonprogo Senilai Rp290 Miliar

I Made Widya Diputra (kiri) bersama Bambang Toko Witjaksono, saat meninjau progres pewarnaan ornamen Jathilan di sebuah studio seni di wilayah Tegal Senggotan, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Senin (16 - 12) siang.
18 Desember 2019 18:27 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGOUnderpass di Bandara Internasional Yogyakarta atau kawasan Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo dihiasi dengan sejumlah ornamen. Karya seni itu dikerjakan secara simultan oleh beberapa pekerja seni asal Jogja. Bagaimana prosesnya? berikut laporan wartawan Harian Jogja, Jalu Rahman Dewantara.

"Semua diawali pada Mei 2019," ujar Bambang Toko Witjaksono, saat membuka obrolan dengan Harian Jogja, di sebuah studio seni di wilayah Tegal Senggotan, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Senin (16/12/2019) siang.

Obrolan tersebut membahas tentang awal mula seniman instalasi ini ikut dalam proyek pembuatan ornamen untuk underpass di kawasan YIA.

Pada Mei, Bambang bersama Art Program, sebuah tim di bawah naungan PT. Cipta Anak Bangsa, yang ditunjuk PT. Angkasa Pura I Persero untuk mendekorasi bangunan YIA, diminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUPESDM) Provinsi DIY membuat ornamen khusus untuk underpass yang tengah dibangun di kawasan bandara tersebut.

Penunjukan itu, dilandasi atas keinginan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, supaya dekorasi di underpass bisa selaras dengan konsep ornamen di bandara yang sejak awal mengusung tema seni dan budaya DIY.  Singkat kata, harus ada benang merah antara dua mega proyek itu, agar representasi DIY sebagai ladang seni dan budaya lewat media ornamen bisa terwujud. "Karena kami juga mengerjakan bandara, jadi sekalian diminta mengerjakan underpass," ujar salah satu pencetus lahirnya Art Jog ini.

Permintaan itu berbuah kerja sama. Beberapa kali Bambang dan timnya bertemu, tidak hanya dengan DPUPESDM DIY, tapi juga PT Wijaya Kusuma (WIKA) selaku pelaksana proyek pembangunan underpass. Pertemuan itu membahas mengenai desain ornamen juga teknis pelaksanaan. Urusan desain turut dikomunikasikan dengan Sultan dan disepakati ornamen yang wajib ada, salah satunya citra tarian khas DIY.

Diajukanlah Tari Angguk dan Jathilan. Angguk mempresentasikan seni asli Kulonprogo. Sementara Jathilan, dipilih karena merupakan tarian tradisional yang umum ditemui di seluruh penjuru DIY. Ornamen kedua tarian itu dipasang di kedua sisi dinding underpass. Sementara di pintu underpass, diusulkan sentuhan ornamen yang terinsipirasi dari lingkungan Taman Sari. Di beberapa sudut underpass juga dipasang ornamen khas Kulonprogo, lainnya yaitu motif batik geblek renteng. "Karena Ngarsa Dalem [Sultan] sudah bilang oke, konsep bisa direalisasikan," ujarnya.

Setelah konsep disepakati, tahap selanjutnya yaitu membuat ornamen. Untuk ornamen penari, tidak dikerjakan oleh Bambang maupun jajaran tim Internal PT. Cipta Anak Bangsa, melainkan menunjuk I Made Widya Diputra atau akrab disapa Lampung.

Seniman berdarah Bali itu dipilih karena menurut Bambang, memiliki kemampuan yang mumpuni dalam bidang seni instalasi. Lampung juga kerap mengikuti pameran seni salah satunya Art Jog. Di samping itu terdapat kedekatan emosional antara kedua insan ini. Bambang merupakan Dosen Seni Murni, yang mengajari Lampung sewaktu menempuh studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

"Setelah menentukan konsep kami pilih Lampung sebagai seniman pelaksana, secara teknis dia sudah paham betul bagaimana membikin ornamen relief, selain itu orangnya juga berani eksplore," ujarnya.

Riset Mendalam

Lampung memulai tugasnya pada Agustus lalu. Diawali dengan meninju lokasi underpass. Peninjauan itu untuk mengetahui bagaimana cara agar pengendara yang melintas bisa melihat ornamen seakan berlenggak-lenggok bak penari sesungguhnya.

Untuk menciptakan ilusi seperti itu, dibutuhkan 105 ornamen terdiri dari 54 penari Jathilan, dan 51 penari Angguk. Ornamen itu dipasang berjejer dengan rentang jarak masing-masing antara 10-15 meter di sepanjang kanan kiri dinding. Untuk Angguk diletakan di sebelah selatan, sementara Jathilan di sisi utara.

Agar efek gerakan semakin terlihat, bentuk ornamen dibikin agak menonjol. Dimensi ornamen juga dibuat cukup besar, dengan tinggi sekitar tiga sampai empat meter dan lebar antara 1,5 hingga dua meter.

"Kami sudah melakukan simulasi, jadi jika melaju dengan kecepatan 40 km per jam, nanti dapat melihat ornamen seakan-akan bergerak, prinsipnya seperti animasi flip book, semakin kencang dibuka semakin keliatan gerakannya, sebaliknya jika kita lambat semakin tidak terlihat gerakannya," ujar Lampung kepada Harian Jogja di lokasi yang sama saat mengobrol dengan Bambang Toko.

Sebelum memulai tahap modeling atau membikin cetakan ornamen, Lampung terlebih dahulu meriset mendatangi langsung penari aslinya. Penari diminta untuk memperagakan gerak tari komplet dengan mengenakan kostum tari. Tiap gerakan kemudian dipotret dan dipilih beberapa yang paling bagus untuk selanjutnya dijadikan desain utama cetakan.

"Karena saya tidak terlalu paham mengenai tarian, jadi pakai cara ini, kalau cuma lihat di Internet rasanya kurang," ujarnya.

Setelah proses itu selesai, baru kemudian masuk tahap modeling, pencetakan dan pewarnaan. Tahap ini dimulai pada September lalu. Proses ini tidak dilakukan sendiri oleh Lampung, tapi dengan menggandeng sejumlah rekan seniman.

Untuk modeling dan pencetakan dilakukan di SAS Studio milik Sarjono, beralamat Jalan Samas, Kampung Paliyan, Desa Tirtomulyo, Kecamatan Kepek, Kabupaten Bantul. Dalam proses itu diawali dengan membuat model menggunakan tanah liat. Setelah terbentuk wujud penari, bahan tanah liat dikelupas dan bekas cetakannya diisi risin dan bahan fiber.

Cetakan yang sudah jadi kemudian masuk proses pewarnaan yang dilakukan di studio seni milik Seniman Instalasi, Yudhi Sulistyo, di wilayah Tegal Senggotan, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

"Total tenaga yang ikut dalam proses ini [pembuatan ornamen penari] sekitar 30-an lebih, mulai dari pekerja di tim pencetakan dan modeling, lalu di pewarnaan, kemudian yang mencetak master ada lima orang termasuk saya, dan kurator Mas Bambang, ada juga dibantu koordinator lapangan untuk proses pemasangan di underpass," ujarnya.

Lampung mengaku selama proses pembuatan ornamen tidak ada kendala berarti meski ini proyek besar pertamanya di luar event-event pameran seni. Hanya saja, faktor cuaca dan minimnya tenaga, sempat membikin proses pengerjaan terhambat. "Kalau untuk teknis pembuatan tidak ada masalah ya, toh teknisnya sama kaya mau pameran, cuma memang ada faktor nonteknis yang menghalangi," ujarnya.

Istri sekaligus manajer Lampung, Hanif Zuhana Rahmawati menambahkan faktor nonteknis seperti cuaca turut mempengaruhi produktivitas pembuatan ornamen. Akibat peralihan musim sejumlah rekan yang ikut membantu pengerjaan mendadak sakit. Belum lagi hujan yang turun secara terus-menerus menyebabkan proses pewarnaan terhambat.

Sampai saat ini masih ada 20 ornamen yang seluruhnya jenis penari Jathilan masih dalam tahap pewarnaan. Jika tidak ada kendala dalam waktu dekat ornamen-ornamen itu bisa segera dikirim dan dipasang di underpass. "Kalau yang Angguk sudah semua, nah sekarang tinggal 20 ornamen Jathilan yang belum jadi, targetnya sebelum tanggal 20 Desember sudah bisa terpasang," ucapnya.

Belum Pasti

Jalur underpass YIA belum dapat dipastikan kapan diserahkan ke Pemprov DIY. Pejabat Pembuat Komitmen Jembatan Kretek 2 dan Underpass Kentungan Cs Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR Muhammad Sidiq Hidayat menuturkan secepatnya proses penyerahan dilakukan.

Sebelumnya, Sidiq optimistis bisa merampungkan pembangunan ini tepat waktu sehingga bisa dilalui kendaraan pada bulan ini. Namun, ketika Harian Jogja mengonfirmasi ulang pada Selasa (10/12/2019) apakah kemungkinan bulan ini diserahterimakan, dirinya tidak memberi kepastian. "Sedang proses, secepatnya akan diserahkan," kata dia kepada Harian Jogja ketika dikonfirmasi melalui aplikasi perpesanan.

Menurutnya, secara teknis terowongan sepanjang 1.400 meter yang menghabiskan anggaran senilai Rp290 miliar ini sudah bisa difungsikan bulan ini. "Secara teknis bisa saja, tapi secara administratif dan politik, belum tahu," ujarnya.