Begini Nasib Tukang Becak Kayuh Saat Ini

Karto Mugino, 73, tukang becak di Gunungkidul - Harian Jogja/Muhammad Nadhir Attamimi
19 Desember 2019 21:07 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Becak menjadi salah satu alat transportasi tradisional yang masih bertahan di DIY. Namun lambat laun, alat tranportasi itu kian terpinggirkan. Bahkan ada rencana untuk membuat becak listrik agar angkutan roda tiga itu bisa bersaing dengan moda transportasi lainnya. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Muhammad Nadhir Attamimi.

Tubuh tua itu terbaring dengan tak nyaman di atas kendaraan roda tiga yang sudah tampak kusam. Meski sesekali mata terpejam, dia tetap terjaga, mengawasi lalu lalang manusia dan kendaraan yang silih berganti lewat di depannya. Sebagian besar mereka tak mendatangkan keuntungan baginya, hanya sekadar menanyakan alamat hingga bertanya soal tarif.

Suara bising kendaraan, suara lirih dan teriakan manusia terus menggema di sekitarnya. Bosan berbaring, pria tua itu berdiri, merapikan kembali bentuk bantalan lumayan tipis berukuran 40x30 cm yang di setiap sisi dan tengah sobek termakan panasnya jarak tempuh dan usia becak tua miliknya. Tatapannya kosong menerawang jauh, angan-angan dan impian masih tersirat sedikit di balik keriput kulitnya.

Karto Mugino, 73, pria yang di masa tuanya ini menghabiskan waktunya di jalanan. Mengemudi becak merupakan satu-satunya keahlian yang bisa dijalaninya di umur yang sudah tidak muda lagi. Karto sadar, tiduran bukan hal yang baik untuk saat itu, mengingat belum satupun penumpang atau tumpukan barang belanjaan yang menjadikan becak miliknya sebagai pilihan untuk mengantar. Padahal dapurnya harus mengepul setiap hari.

Sambil memakai topi ala koboi, sesekali Karto menawarkan tumpangan, tak ada respons yang bagus. Beberapa orang menolak menggunakan jasanya. Karto kembali duduk seperti sedia kala. Kali ini, dengan gerutu di kepala sambil membuka topi dan mengaitkannya ke besi kaitan yang ada di sisi becaknya.

"Sepi pooll, penumpang enggak ada yang mau naik dari tadi," kata Karto saat ditemui Harian Jogja di kawasan Pasar Argosari, Wonosari, Gunungkidul, Senin (16/12/2019).

Karto mengungkapkan kesulitan mendapatkan penumpang sangat terasa sejak Terminal Dhaksinarga yang awalnya terletak di Desa Baleharjo berpindah ke Desa Selang, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul. Penumpang yang awalnya menjadi langganannya hilang bak ditelan Bumi. Tak ada lagi keramaian penumpang. "Kalau tidak salah terminal yang di Baleharjo itu pindah kurang lebih sudah lima sampai enam tahun ini," ujarnya.

Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula, setelah terminal pindah kemudian muncul ojek daring. Masuknya angkutan ojek berbasis online di Gunungkidul memperparah keadaan. Dimana, membuat pendapatannya semakin menurun. Rasa capek menggebu, dapur tak mengebul. Namun, ia tetap mensyukuri keadaan yang dirasakannya saat ini.

"Mau tidak mau ya dicukup-cukupkan, saya hanya bisa narik becak, kalau bisa ya jadi pegawai PLN," kata Karto, tampak giginya yang mulai tanggal mengintip dari senyum rekahnya sambil melihat petugas PLN sedang memperbaiki aliran listrik.

Beberapa tahun lalu sebelum pindahnya terminal dan masuknya angkutan berbasis daring di Gunungkidul, Karto pulang dengan senyum lebar karena bisa mengantongi Rp100.000-Rp150.000 saban harinya. Sekarang, narik becak sejak pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB, mendapat Rp50.000 pun sudah sangat ia syukuri. Apalagi bersaing dengan sesama pengemudi becak lainnya di Pasar Argosari yang jumlahnya puluhan.

Karto menghela nafas sejenak, menjernihkan kembali ingatannya, menghitung sejenak, ternyata 46 tahun lalu Karto yang muda sudah mulai menanggalkan hidupnya sebagai penarik becak. Suka duka sudah ia lewati hingga saat ini sudah memiliki lima anak, tiga cucu dan dua cicit. Semua berawal dari rupiah becak untuk menghidupinya.

Saat disinggung dengan rencana penggantian becak kayu menjadi becak listrik, dirinya antara menerima dan menolak. Ia hanya menerima karena itu aturan pemerintah, tetapi dirinya tidak akan beralih dari becak kayu. Selain becak kayu telah menghidupi kelurganya, alasan lain karena kesehatan.

Dirinya tak ada alasan lain untuk berolahraga selain mengayuh becak tuanya itu yang sudah berganti sebanyak tiga kali sejak memulai jadi pengemudi kendaraan modifikasi roda tiga itu sejak 1973.

"Kalau pakai becak listrik saya enggak bisa olahraga. Cara saya agar sehat ya dengan mengayuh becak, tapi di sini sepertinya belum ada becak listrik," ujarnya.

Karto hanya berharap sedikit dari pemerintah, untuk memperhatikan bagaimana ke depan nasib mereka bisa tertolong, entah bagaimanapun caranya. Terpenting bagi dia, penumpang bisa menggunakan jasanya, dapurnya pun bisa terus berasap.