Potads Siapkan Lapangan Kerja untuk Kaum Disabilitas Intelektual

Peserta dari kalangan disabilitas mengikuti face painting dalam acara Charity for Disability Mewujudkan DIY Makin Inklusif di Harian Jogja, Sabtu (21/12/2019). - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
21 Desember 2019 21:57 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Kesadaran masyarakat Kota Jogja terhadap hak-hak difabel sudah meningkat. Namun permasalahan ruang aktualisasi diri setelah lulus sekolah masih belum dapat terpenuhi.

Acara Charity for Disability “Mewujudkan DIY Makin Inklusif” yang diselenggarakan Harian Jogja pada Sabtu (21/12/2019) diharapkan menjadi pintu gerbang kerja sama dengan berbagai pihak dalam penyediaan lapangan kerja untuk difabel.

Ketua Persatuan Orang Tua Anak Dengan Down Syndrome (Potads), Sri Rejeki Ekasasi mengatakan acara-acara yang memberi ruang unjuk bakat difabel seperti acara tersebut memberi banyak kesempatan bekerja sama dengan berbagai pihak. "Acara seperti ini sangat berpengaruh untuk kegiatan sosialisasi kami tentang hak-hak difabel, tentang mereka yang juga punya banyak bakat," kata Sri Rejeki, Sabtu.

Sosialisasi melalui berbagai instansi swasta dan pemerintah menurutnya sudah berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat soal hak-hak difabel yang belum terpenuhi. Masyarakat juga sudah meyakini bahwa difabel memiliki banyak bakat yang harus diasah. Namun permasalahannya terkadang stigma negatif dari masyarakat kembali datang disaat mereka sudah lulus sekolah.

"Setelah lulus sekolah kena stigma negatif lagi, anak-anak hanya bisa diam lagi di rumah, tidak ada lapangan pekerjaan untuk mereka, terutama yang disabilitas intelektual," kata Sri Rejeki.

Harapannya acara Charity for Disability “Mewujudkan DIY Makin Inklusif” yang diselenggarakan Harian Jogja bisa dilaksanakan rutin dan menjadi pintu gerbang kerja sama baru dengan berbagai pihak untuk penyediaan lapangan pekerjaan. "Kalau untuk difabel secara fisik mungkin sudah biasa, kami sekarang fokus ke penyediaan lapangan pekerjaan buat mereka yang disabilitas intelektual," kata Sri Rejeki.

Mengembangkan Skill untuk Proyek Terbaru

Dalam acara tersebut ada empat workshop khusus anak-anak difabel yaitu pembuatan kain shibori, face painting, kelas fotografi, dan Nyeduh Kopi Bersama Kopi Taru Martani. Sri Rejeki mengatakan ada beberapa anak-anak difabel yang bercita-cita ingin menjadi barista.

"Jadi lumayan banyak yang kami daftarkan ikut workshop Nyeduh Kopi Bersama Kopi Taru Martani. Ini juga sebagai persiapan dari yayasan kami untuk mengembangkan skill mereka. Sebab ada rencana yang sudah disiapkan dalam rangka penyediaan lapangan kerja," kata Sri Rejeki.

Sri Rejeki mengatakan nantinya yayasan milik Potads yang khusus mengembangkan pemberdayaan ekonomi difabel itu akan membuat suatu bisnis di mana para pekerjanya adalah anak-anak dari Potads. Tak hanya itu, produk yang dijual juga hasil buatan tangan mereka.

Ketua Panitia Charity for Disability “Mewujudkan DIY Makin Inklusif”, Laila Rochmatin mengatakan tujuan jangka panjang dari acara ini adalah mengenalkan softskill kepada anak-anak difabel dan orang tua dengan anak difabel. Bagaimana pun, lanjut Laila, anak-anak difabel berhak memiliki skill yang akan mendukung mereka menjadi pribadi yang mandiri. Setidaknya bisa memenuhi kebutuhan untuk dirinya.