Target RPJMD DIY Dikejar di Tahun Terakhir, Kemiskinan Jadi Tantangan
RPJMD DIY 2022-2027 masuk tahun terakhir. Pemda optimistis capai target meski kemiskinan dan ketimpangan masih jadi tantangan.
Ilustrasi jasa kuliner./Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Perjalanan program Gandeng Gendong sampai akhir 2019 masih banyak persoalan. Aplikasi Nglarisi yang digadang-gadang dapat mempermudah pemesanan ternyata belum bisa dimanfaatkan secara optimal.
Berdasarkan data Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) yang membelanjakan anggaran belanja jamuan menggunakan aplikasi Nglarisi nilai totalnya mencapai Rp2 miliar. Jumlah itu tak sebanding dengan nilai dari nonaplikasi (belanja langsung) yang mencapai Rp12 miliar.
Persoalannya adalah belum semua kelompok masyarakat anggota Gandeng Gendong tergabung dalam aplikasi tersebut. Padahal kemunculan aplikasi Nglarisi dimaksudkan agar kelompok masyarakat memiliki kesempatan lebih untuk disasar OPD. Selain itu, beberapa persoalan teknis juga masih ditemui, seperti terlambatnya notifikasi pesanan masuk.
Pengurus Kelompok Mustikarasa, Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan, Widi, mengungkapkan kelemahan Nglarisi, yakni notifikasi pemesanan yang masuk terlambat. Dia menceritakan semisal ada pemesan belanja jamuan pukul 10.00 WIB, namun belum masuk di aplikasi.
Kemudian pemesan menghubungi melalui Whatsapp untuk konfirmasi pemesanan yang belum terjawab. Setelah ada pemberitahuan dari pemesan melalui Whatsapp, barulah dicek pesanan di Nglarisi dan baru muncul ada pemesanan masuk. "Sering ngadat. Bukan karena kuota atau posisi, tapi memang enggak ada notifikasi," kata dia di sela-sela pertemuan Pemkot dengan kelompok masyarakat anggota Gandeng Gendong di Balai Kota Jogja, Senin (23/12/2019).
Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi, mengatakan Pemkot akan mengupayakan perbaikan pada tahun 2020 baik pada aplikasi, internal pemkot maupun kelompok. "Akan ada pendampingan bagaimana menilai tampilan maupun kualitas dari jamuan yang dibuat. Agar lebih meningkatkan produk kualitasnya," katanya.
Dia mendorong peserta kelompok Gandeng Gendong agar setidaknya bisa menggunakan aplikasi Nglarisi untuk proses pemesanan, kendati pemesanan lebih cepat secara konvensional. "Kami akan melihat sebabnya kenapa kok tidak dipesani," ujarnya.
Dia menambahkan dari anggaran sebesar Rp 48 miliar, baru sekitar Rp15 miliar (40%) yang terserap di kelompok masyarakat peserta Gandeng Gendong yang jumlahnya mencapai 160 kelompok. “Jadi masih terdapat sekitar Rp 30 miliar yang belum terserap,” ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RPJMD DIY 2022-2027 masuk tahun terakhir. Pemda optimistis capai target meski kemiskinan dan ketimpangan masih jadi tantangan.
Jadwal Bus KSPN Malioboro–Parangtritis Kamis (20/5/2026) menjadi solusi wisata hemat dengan tarif Rp12.000, memudahkan perjalanan dari pusat kota ke pantai.
Harga emas Pegadaian hari ini Kamis 21 Mei 2026 turun. Emas Antam jadi Rp2,862 juta, UBS Rp2,797 juta, dan Galeri24 Rp2,756 juta.
KA Prameks kembali padat penumpang Senin ini, cek jadwal lengkap rute Jogja–Kutoarjo.
Imigrasi Sulsel menemukan WNA asal Filipina dan Malaysia memakai KTP Indonesia untuk mengurus paspor RI di sejumlah daerah.
Prabowo Subianto menegaskan pemerintah siap memakai radar dan satelit untuk melacak aset ilegal serta memburu koruptor hingga bungker bawah tanah.