4 Warga Bantul Meninggal karena DBD, Dinkes Waspadai Siklus Lonjakan Penyakit Tahun Ini

Ilustrasi nyamuk DBD - JIBI
08 Januari 2020 19:57 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat 1.378 kasus demam berdarah dangue (DBD) di kabupaten tersebut pada 2019 lalu. Empat penderita penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes aegypti tersebut meninggal dunia.

“Yang meninggal dunia dua di Kecamatan Jetis, satu di Kecamatan Bantul, dan satu di Kecamatan Banguntapan,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Bantul, Tri Wahyu Joko Santosa, Rabu (8/1/2019).

Sementara 2018 lalu hanya ada 115 kasus sampai Oktober. Pria yang akrab disapa dokter Oky itu mengatakan angka kasus demam berdarah tidak bisa dibandingkan dari tahun ke tahun atau dari bulan ke bulan karena penyebaran demam berdarah dipengauhi kondisi cuaca dan lingkungan.

Terkadang, kata dia, kasus DBD menurun saat kemarau panjang tanpa hujan dan meningkat laki jika terjadi turun hujan. Demikian sebaliknya jika hujan terus menerus tren kasus juga menurun dan meningkat kembali saat masuk kemarau. Dinkes justru mewaspadai peningkatan kasus demam berdarah pada tahun tertentu dan lonjakan terjadi pada tiap lima tahun.

Siklus tersebut dimungkinkan terjadi tahun ini karena angka terbanyak DBD di Bantul terjadi pada 2016 lalu yang mencapai 2441 kasus dalam setahun. Tahun berikutnya kembali menurun sebanyak 538 kasus pada 2017, dan 2018 sampai Oktober mencapai 115 kasus. “Selama awal tahun ini ada surat dari rumah sakit [informasi DBD] yang masuk tapi belum divalidasi,” ujar Oky.

Dinkes sudah menyiapkan berbagai upaya untuk menekan angka DBD meningkatkan penyuluhan dan pemantauan angka jentik nyamuk (AJB) di tiap wilayah dan mengeluarkan surat edaran kewaspadaan dangue ke semua puskesmas agar diteruskan pada masyarakat. “Serta [enyiapan rapid tes dengue dan larvasida untuk deteksi dini dan preventif,” kata Oky.

Selain itu, Oky juga mengimbau masyarakat untuk tetap memberantasasarang nyamuk dan membiasakan pola hidup bersih dan sehat. Ia juga meminta masyarakat tidak melakukan pengasapan mandiri.

Kepala Dinkes Bantul Agus Budi Raharjo mengatakan persebaran kasus demam berdarah di Bantul hampir merata di semua kecamatan. Ia meminta masyarakat untuk peduli pada kebersihan lingkungan, terutama membersihkan tempat-tempat yang berpotensi sebagai sarang nyamuk.