KASUS ANTRAKS: Ada 540 Warga di Gunungkidul Makan Daging Sapi yang Mati Mendadak

Petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul berupaya mengubur bangkai sapi milik Sunaryo yang mati mendadak di Dusun Kulwo, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Selasa (27/8/2019)./Istimewa - Dokumen DPP Gunungkidul
13 Januari 2020 17:17 WIB Newswire Gunungkidul Share :

Harianjogja.com,GUNUNGKIDUL- Kasus dugaan antraks di Gunungkidul diduga melibatkan ratusan warga.

Sebanyak 540 orang di dua dusun dari Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul telah diberi suntikan antibiotik karena diduga terpapar penyakit antraks.

Tak hanya itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) juga kembali melakukan pemantauan terhadap warga yang berada di Kecamatan Semanu. Setidaknya ada 64 orang warga Semanu yang diindikasikan juga mengonsumsi daging yang diduga terpapar bakteri penyebab antraks dari Kecamatan Ponjong.

Kepala Dinkes Gunungkidul Dewi Irawaty menuturkan, saat ini tim dari Dinkes terus bergerak ke lapangan untuk melakukan pemantauan dan pendataan terhadap kemungkinan penyebaran antraks. Sampai Minggu (12/1/2020), berdasarkan laporan yang masuk ke dirinya, ada 64 orang di Semanu yang juga mengonsumsi daging sapi yang mati mendadak di Ponjong.

Pihaknya akan melakukan pemantauan secara intensif terhadap 64 orang di Semanu tersebut. Selain memberikan suntikan antibiotik, pihaknya akan melakukan pemantauan selama 60 hari terhadap mereka.

"Teman-teman kami terus bergerak melakukan pemantauan. Sementara hanya ada di dua kecamatan ini," ujarnya, Minggu di Gedung DPRD Gunungkidul.

Dewi menambahkan, sampai saat ini dari 60 orang di Semanu tersebut memang belum ada yang menunjukkan gejala penyakit antraks. Hanya saja Dinkes terus melakukan tindakan preventif agar masyarakat tidak ikut tertular penyakit yang bersumber dari sapi tersebut.

Menurut Dewi, perlakuan yang sama dengan orang yang terpapar antraks harus diterapkan kepada 64 warga Semanu tersebut. Jika setelah 60 hari kondisinya tidak memburuk, maka pemantauan akan dihentikan.

"Kita pantau secara intensif kepada mereka tersebut," tambahnya.

Untuk mengantisipasi penyebaran antraks selain di dua kecamatan tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul telah sepakat mengeluarkan surat edaran mengonsumsi daging sapi yang sakit ataupun mati secara mendadak. Sebab, 540 warga dua desa di Kecamatan Ponjong dan 64 warga Semanu itu sama-sama mengonsumsi daging sapi yang mati mendadak.

Dewi mengklaim, penyakit antrak di wilayah Gunungkidul mampu mereka tangani, sehingga ia menghimbau kepada masyarakat untuk tidak panik dengan kondisi yang terjadi di wilayah Gunungkidul. Dinkes bersama lintas sektoral telah melakukan antisipasi untuk melokalisasi persebaran bakteri antraks.

Sumber : Suara.com