Gus Mus: Pembina Pramuka yang Ajarkan Kafir No Tidak Paham Agama, Wong Mendem

Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus - Antara
14 Januari 2020 17:27 WIB Rahmat Jiwandono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Ulama sekaligus pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, mengatakan pembina Pramuka yang mengajarkan tepuk tangan dengan kata-kata kafir no di sebuah sekolah dasar di Jogja tidak mengerti tentang agama.

“Seseorang yang mengerti agama harus menyesuaikan dengan siapa dia berbicara,” katanya kepada wartawan seusai menjadi pembicara dalam Dialog Kebangsaan Merawat Persatuan, Menghargai Kebersamaan di Auditorium Abdulkahar Mudzakkir UII, Jalan Kaliurang Km 14,5, Sleman, Selasa (14/1/2020).

“Pembina Pramuka kok ajarkan Islam yes, kafir no. Ini wong mendem [orang mabuk].”

Gus Mus menyayangkan pembina Pramuka tersebut mengajarkan kata-kata seperti itu kepada anak-anak yang belum mengerti apa-apa. Ia menegaskan tidak ada korelasi antara yel-yel kafir dengan kegiatan Pramuka. “Enggak ada urusan dengan itu,” kata dia.

Dia mengimbau pembina Pramuka tersebut belajar mengaji terlebih dahulu. Menurut dia, saat ini kecenderungan yang terjadi di tengah masyarakat adalah banyaknya orang yang tidak paham agama tetapi berbicara soal agama.

“Itu yang terjadi sekarang di masyarakat,” ujar dia.

Kebanyakan orang yang berbuat seperti itu, menurut Gus Mus, hanya karena ikut-ikutan.  Gus Mus juga berpesan agar ustaz yang mengajarkan agama tetapi mengarahkan kepada perpecahan bangsa atau menimbulkan permusuhan sebaiknya diganti.

Sebelumnya, seorang pembina Pramuka dari Gunungkidul mengajarkan tepuk dengan kata kafir no di akhir tepuk saat memberikan pelatihan di sebuah sekolah dasar di Kota Jogja pada Jumat (10/1/2020). Pembina tersebut akhirnya minta maaf setelah salah satu wali murid memprotes.

Wali murid ini menceritakan ia sedang menunggu putranya yang belum keluar kelas di SD Timuran, Prawirotaman, Kota Jogja. Saat itu, ia melihat praktik Pramuka dengan peserta murid di atas kelas anaknya. “Awalnya semua bernyanyi normal, lalu tiba-tiba ada pembina putri masuk dan mengajak anak-anak tepuk tangan,” katanya, Senin (13/1/2020).

Masalahnya, di akhir tepuk tangan, pembina Pramuka tersebut mengajarkan kata-kata kafir no.

Kepala SD Timuran, Prawirotaman, Esty, menjelaskan insiden itu terjadi di luar pengawasannya. Kegiatan pramuka pada Jumat (10/1/2020) merupakan kegiatan dari Kwarcab Kota Jogja. “Sekolah kami hanya ketempatan,” ujarnya.

Ketua Kwarcab Kota Jogja, Heroe Poerwadi, mengatakan kegiatan Pramuka di SD Timuran merupakan Kursus Mahir Lanjut (KML) Kwarcab Kota Jogja, dengan peserta pembina dari berbagai daerah di sekitar DIY.

“Pembina yang mengajarkan tepuk itu [kafir no] peserta dari Gunungkidul,” katanya.

Menurutnya, jika mengacu pada materi yang diajarkan, sebenarnya tidak ada ajaran tepuk tangan tersebut. “Hal itu terjadi atas spontanitas pembina.”

Setelah mendapat laporan dari wali murid, Kwarcab Kota Jogja langsung minta maaf dan mengklarifikasi kalau tepuk tersebut tidak ada dalam Pramuka.

Kwarcab Kota Jogja akan memanggil pembina dan panitia yang berkaitan dengan kegiatan itu. “Akan diluruskan apa yang keliru, juga apa konsekuensinya,” ujarnya.