Tepuk Pramuka Kafir No Diajarkan di Jogja, Sri Sultan: Enggak Ada Kafir di Indonesia

Sri Sultan HB X - Harian Jogja/Desi Suryanto
14 Januari 2020 16:37 WIB Rahmat Jiwandono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyesali insiden intoleransi yang dilakukan pembina Pramuka yang mengajarkan tepuk tangan dengan kata-kata kafir no beberapa waktu lalu.

“Saya menyesal di Pramuka terjadi hal seperti itu,” ujar Sultan seusai Dialog Kebangsaan Merawat Persatuan, Menghargai Kebersamaan di Auditorium Abdulkahar Mudzakkir UII, Jalan Kaliurang Km 14,5, Sleman, Selasa (14/1/2020).

Sultan menilai tepuk tangan yang diajarkan pembina Pramuka itu sangat tidak tepat.

“Bukan tempatnya di situ dan tidak perlu mengatakan seperti itu. Di Indonesia enggak ada kafir,” ujar Sultan.

Namun, Sultan belum bisa menentukan sanksi apa yang bakal dijatuhkan kepada pembina Pramuka asal Gunungkidul tersebut. “Nanti kita lihat.”

Saat mengisi Dialog Kebangsaan, Sri Sultan menilai keberagaman di Indonesia merupakan realita yang terjadi atas kehendak Tuhan. Jadi, apabila ada yang menentang realitas keberagamaan, menurut Sultan, orang tersebut sedang menentang kehendak Tuhan.

“Keberagaman adalah suatu keniscayaan yang harus dijaga dan disyukuri,” ujar dia.

Sebelumnya, seorang pembina Pramuka dari Gunungkidul mengajarkan tepuk dengan kata kafir no di akhir tepuk saat memberikan pelatihan di sebuah sekolah dasar di Kota Jogja pada Jumat (10/1/2020). Pembina tersebut akhirnya minta maaf setelah salah satu wali murid memprotes.

Wali murid ini menceritakan ia sedang menunggu putranya yang belum keluar kelas di SD Timuran, Prawirotaman, Kota Jogja. Saat itu, ia melihat praktik Pramuka dengan peserta murid di atas kelas anaknya. “Awalnya semua bernyanyi normal, lalu tiba-tiba ada pembina putri masuk dan mengajak anak-anak tepuk tangan,” katanya, Senin (13/1/2020).

Masalahnya, di akhir tepuk tangan, pembina Pramuka tersebut mengajarkan kata-kata kafir no.

Kepala SD Timuran, Prawirotaman, Esty, menjelaskan insiden itu terjadi di luar pengawasannya. Kegiatan pramuka pada Jumat (10/1/2020) merupakan kegiatan dari Kwarcab Kota Jogja. “Sekolah kami hanya ketempatan,” ujarnya.

Ketua Kwarcab Kota Jogja, Heroe Poerwadi, mengatakan kegiatan Pramuka di SD Timuran merupakan Kursus Mahir Lanjut (KML) Kwarcab Kota Jogja, dengan peserta pembina dari berbagai daerah di sekitar DIY.

“Pembina yang mengajarkan tepuk itu [kafir no] peserta dari Gunungkidul,” katanya.

Menurutnya, jika mengacu pada materi yang diajarkan, sebenarnya tidak ada ajaran tepuk tangan tersebut. “Hal itu terjadi atas spontanitas pembina.”

Setelah mendapat laporan dari wali murid, Kwarcab Kota Jogja langsung minta maaf dan mengklarifikasi kalau tepuk tersebut tidak ada dalam Pramuka.

Kwarcab Kota Jogja akan memanggil pembina dan panitia yang berkaitan dengan kegiatan itu. “Akan diluruskan apa yang keliru, juga apa konsekuensinya,” ujarnya.