Tak Menghilangkan Nuansa Tradisional, Becak Listrik di Jogja Bakal Semakin Canggih

Tukang Becak berkonvoi bersama di sekitar kampus UGM saat peluncuran becak listrik, Kamis (20/12/2018) di Halaman Kantor Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM. - Harian Jogja/Yogi Anugrah
17 Januari 2020 19:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA –Dinas Perhubungan DIY sedang mengupayakan satu bentuk prototipe becak listrik agar bisa menjadi pilihan variatif bagi para pengemudi becak di Jogja. 

Bentuk yang akan digarap adalah model pedal assist, menggunakan penggerak listrik namun tetap harus dengan dikayuh sehingga tetap ada nuansa tradisionalnya.

Kabid Pengendalian dan Operasi Dinas Perhubungan DIY Hari Agus Triono menjelaskan pihaknya akan mengupayakan satu prototipe lagi becak kayuh dengan tenaga listrik untuk mengganti becak motor. 

Salah satunya menggunakan teknologi pedal assist, di mana sistem gas akan berjalan secara otomatis dari sensor putaran kayuhan kaki. Sehingga model ini tetap harus dijalankan dengan cara dikayuh namun dalam kondisi lambat, maka listrik secara otomatis akan membantu kayuhan untuk menambah kecepatan.

“Ini ada satu lagi yang coba untuk riset kesana, bisa enggak semacam pedal assist nanti digunakan, ini tidak perlu pakai gas langsung dikayuh, jika kecepatan di bawah 10 kilometer per jam baru listrik tergerak untuk menambah kecepatan,” katanya Jumat (17/1/2020).

Pembuatan pedal assist ini sebenarnya sangat mudah, kata dia, hanya saja perlu ada contoh pakem untuk model becaknya yang sudah teruji dan aman. Model ini tetap pakai listrik dan perlu direcharger dan terus mengayuh saat dioperasikan, tetapi saat di jalan turunan listriknya tidak berfungsi dan sebaliknya akan berfungsi saat tanjakan atau di bawah 10 kilometer per jam.

Hari Agus mengatakan model pedal assist ini tergolong paling mendekati aturan tradisional dibandingkan prototipe yang saat ini ada. Penggunaan teknologi ini diterapkan di beberapa sepeda operasional milik Dishub DIY. Khusus untuk motor penggerak pedal assist diperkirakan sekitar Rp7 juta belum termasuk modifikasinya untuk mengontrol kecepatannya. Namun ia belum dapat mengestimasikan detail kebutuhan total untuk satu unit becak dengan teknologi ini.

“Saat ini sedang dicari untuk prototipe model pedal assist ini, di mana ada kontrol kecepatan satu, dua tiga, kalau ingin santai bisa kecepatan satu, jadi enggak usah pakai gas. Salah satunya yang sudah membuat model ini adalah Astro Bike dari anak-anak UNY dan lainnya saya kira banyak yang bisa mengembangkan karena sederhana,” ujarnya.

Ia menegaskan Dishub DIY saat ini berusaha membuat beberapa pilihan termasuk becak listrik buatan UGM yang enam unit di antaranya sudah digunakan beroperasi sopir becak sebagai salah satu uji coba. Adapun hasil evaluasi dari penggunaannya ditemukan kendala aki dan motor penggerak. Termasuk rantai terlalu kecil sehingga sering putus kemudian diganti dengan ukuran rantai motor. Dari sisi kestabilan juga masih perlu dibenahi karena rantai sering lepas bahkan hingga terselip di as sehingga mengunci putaran roda. Paguyuban becak kemudian melakukan beberapa penambahan dan masukan agar sesuai  dan nyaman saat digunakan.

“Prototipe yang lama itu, Asnya kan kecil, pakainya girnya motor, rantai motor, tadinya kecil giri sepeda tetapi enggak kuat karena saat bawa beban putus, kadang tidak stabil dan lepas, akhirnya bosnya juga diganti, teman-teman becak ini malah berinovasi sendiri memberikan masukan, yang penting tidak merusak komponen motor,” ujarnya.

Pihaknya perlu membuat prototipe lebih dari satu agar banyak pilihan variasinya, sehingga bisa diterima semua pihak terutama pengguna becak motor saat ini serta tidak melanggar dari sisi aturan. Ditjen Perhubungan Darat secara resmi telah memberikan dukungan terhadap Pemda DIY terkait penggunaan becak kayuh dengan tenaga penguat alternatif sesuai dengan surat nomor AJ.005/3/5/DJPD/2019 tertanggal 9 November 2019.