Jadwal DAMRI YIA ke Jogja Senin 18 Mei Mei, Tarif Rp80.000
Jadwal DAMRI YIA ke Jogja hari ini, tarif Rp80.000, rute lengkap menuju Sleman dan pusat kota.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menandatangani replica buku Muhammadiyah Membangun Kesehatan Bangsa dalam seminar dan rakornas, Jumat (7/2/2020). /Harian Jogja-Sunartono.
Harianjogja.com, JOGJA—Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berharap rumah sakit yang berada di seluruh negeri ini tidak mengalami kapitalisasi agar bisa memberikan layanan kesehatan lebih merata kepada masyarakat. Ia menyinggung soal regulasi rumah sakit yang dikeluarkan pemerintah sebaiknya tidak menghambat perannya untuk mensehatkan masyarakat.
Haedar Nashir mengatakan rumah sakit yang dalam operasionalnya diatur oleh negara tetapi harus berperan signifikan untuk memajukan kesehatan masyarakat. Jangan sampai regulasi yang dikeluarkan negara justru menghambat peran rumah sakit termasuk RS PKU Muhammadiyah yang ada di Indonesia untuk mensehatkan masyarakat. Ia juga berharap agar rumah sakit di Indonesia tidak mengalami kapitalisasi.
“Kami berharap rumah sakit di negeri tidak mengalami kapitalisasi yang mengarah pada kuatnya aroma kapitalisme di rumah sakit, siapapun yang rumah sakit tentu jangan sampai berubah jadi pabrik, lembaga kesehatan yang kapitalistik,” ucapnya di sela-sela Seminar & Rakornas tentang Muhammadiyah Membangun Kesehatan Bangsa di Hotel Eastparc Yogyakarta, Jumat (7/2/2020).
Alasannya, kata dia, seluruh institusi seperti rumah sakit yang dihadirkan negara maupun swasta harus menciptakan usaha mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Oleh karena itu fokus dari rapat kerja tersebut adalah mendorong agar pemerintah lebih seksama dalam mengeluarkan kebijakan membangun pola hidup sehat di masyarakat.
Haedar juga menyinggung persoalan stunting yang akhir-akhir ini menjadi fokus penanganan pemerintah. Ia menilai sumber masalahnya berasal dari kemiskinan, kurang gizi, ibu yang tidak sehat ibu saat hamil karena berbagai faktor, sehingga akar persoalan harus dicari solusinya. Pihaknya melalui Aisyiyah sudah lama memiliki program menyasar kalangan tersebut namun memiliki keterbatasan sehingga negara harus hadir menangani persoalan stunting. Program yang dilakukan muhammadiyah lebih bersifat solutif untuk jangka pendek dan praktis, seperti gerakan rumah gizi dan lainnya.
“Menangani ini [stunting] harus dari hilir jangan hanya di hulu, kalau orang stunting kaitannya dengan kemiskinan yang berkait lagi dengan kesejahteraan, sehingga negara harus menggerakkan ekonomi rakyat bisa membawa kesejahteraan. Dan ekonomi yang besar kapitalistik bisa berbagi untuk mensejahterakan rakyat bukan membangun kerajaan sendiri,” katanya.
Ketua Majelis PKU Muhammadiyah Agus Samsudin menambahkan Muhammadiyah memiliki 107 rumah sakit dengan jumlah 17.000 karyawan dan menangani pasien sekitar 12,5 juta setiap tahun. Pihaknya siap membantu pemerintah dalam penanganan kesehatan, termasuk kaitan dengan virus corona.
Karena tenaga medis yang dimiliki sangat mencukupi, termasuk menyiapkan tim dokter dan evakuasi. “Kami sudah memiliki emergency medical team, yang setiap ada bencana bisa diterjunkan sewaktu-waktu, kami siap secara prasarana dan tenaga medis untuk corona ini,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal DAMRI YIA ke Jogja hari ini, tarif Rp80.000, rute lengkap menuju Sleman dan pusat kota.
Shakira memenangkan kasus pajak di Spanyol setelah delapan tahun. Pengadilan memerintahkan pengembalian dana Rp1,1 triliun.
Arema FC memburu kemenangan atas PSIM Jogja pada laga terakhir Super League 2025/2026 demi memperbaiki posisi klasemen.
MotoGP Catalunya 2026 diwarnai penalti tekanan ban yang membuat Joan Mir kehilangan podium dan mengubah klasemen sementara.
Pemkot Jogja mulai menyiapkan guru dan menggandeng kampus menyambut kebijakan Bahasa Inggris wajib di SD mulai 2027.
Xiaomi membatalkan proyek ponsel ultra-tipis Xiaomi 17 Air karena tak ingin mengorbankan performa, baterai, dan kualitas pengguna.