TPST Piyungan Makin Parah, Truk Sampah Harus Sampai Empat Jam

Pembuangan sampah di TPST Piyungan, Bantul, Jumat (29/3/2019). - Harian Jogja/Desi Suryanto
08 Februari 2020 20:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL- Pengusaha jasa angkutan sampah di Bantul mengeluhkan masih terjadinya antrean masuk ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan. Antrean yang terjadi sejak dua pekan terakhir ini membuat mereka merugi karena pengangkutan sampah dari pemukiman tidak maksimal.

Sekretaris Pengusaha Angkutan Sampah 'Eker-eker Golek Menir, Sapta Wijaya mengatakan antrean armada sampah sudah berlangsung sejak dua pekan terakhir karena lokasi pembongkaran sampah penuh, diduga karena terbatasnya alat berat untuk mendorong tumpukan sampah sampai ke tengah TPST.

Menurt dia, biasanya minimal delapan armada bisa langsung masuk area pembongkaran secara bersamaan, namun kini harus bergantian satu sampai dua armada. Akibatnya waktu bongkar lama hingga arus menunggu 3-4 jam. Padahal biasanya sekali bongkar hanya cukup dalam waktu lebih kurang 15 menit.

Dampak dari antrean tersebut pihaknya tidak bisa maksimal mengangkut sampah, “Biasanya sehari dua kali buang sampah siang dan sore. Ini hanya sekali karena mau ke sana lagi sudah tidak bisa karena waktu dibatasi sampai pukul 17.00 WIB. Jadi sampah menumpuk di pemukiman,” kata Sapta, saat dihubungi Jumat (7/2/2020). Sejak setahun terakhir operasional TPST Piyungan memang sampai maghrib, berbeda dengan sebelum-sebelumnya yang bisa sampai 24 jam.

Sapta berujar kerusakan alat berat memang sudah sering kali terjadi terutama saat musim hujan. Namun biasanya diperbaiki dan selesai dalam dua hari, kemudian normal kembali. Ia menilai persoalan di TPST Piyungan sejak dikelola Pemda DIY tidak pernah berubah, yakni lokasi pembongkaran atau dermaga sering penuh dan terlambat dalam membersihkan tumpukan sampah di dermaga.

Selain itu sepanjang jalan pintu masuk TPST Pitungan sampai lokasi pembongkaran juga rusak, “Permasalahan antrean karena pengelolaan TPST Piyungan dalam menyiapkan lokasi pembongkaran yang kurang siap,” ungkap Sapta.

Kepala Balai Pengelolaan Sampah TPST Piyungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Fauzan Umar mengatakan antrean terjadi karena masih banyak truk sampah yang masuk tanpa dump atau bukan dump truck sehingga pembongkaran dilakukan manual dan mengandalkan alat berat. Berbeda dengan dumpt truk yang bisa menurunkan sampah sendiri tanpa bantuan alat berat, sehingga alat berat hanya untuk mendorong dan mengangkut sampah ke tengah.

Selain itu, “Areal pembongkaran angkutan sampah memang sempit dibandingkan jumlah truk yang masuk, sehingga bila bongkar sampah dilakukan secara manual atau pakai excavator tentu waktu delaynya lebih lama,” ujar Umar. Untuk mengurangi waktu antrean pihaknya akan menertibkan truk pengangkut sampah tanpa dump atau bukan dump truck.