Ring Road Utara Macet setelah Underpass Kentungan Beroperasi, Begini Kata Dishub DIY

Pekerja menyelesaikan pekerjaan pada tembok underpass Kentungan, Sleman, Sabtu (15/2/2020). Sejak Jumat (14/2/2020), underpass Kentungan sudah dibuka untuk umum dan bisa dilewati kendaraan.-Harian Jogja - Gigih M. Hanafi
16 Februari 2020 08:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kemacetan akibat beroperasinya underpass Kentungan dinilai hal biasa.

Beroperasinya underpass Kentungan sejak Jumat (14/2/2020) menimbulkan kemacetan panjang di Ring Road Utara. Uji coba pengoperasian underpass tersebut akan dievaluasi.

Pantauan Harian Jogja, Sabtu (15/2/2020), pukul 12.00 WIB-15.00 WIB, volume kendaraan di sepanjang Ring Road Utara meningkat signifikan. Di simpang Gejayan khususnya dari arah barat (underpass) tumpukan kendaraan mengular hingga depan Hotel Lafayette Boutique atau sekitar 1,2 kilometer.

Tidak hanya jalur utama kendaraan roda empat juga memadati jalur lambat. Di jalur lambat bahkan kendaraan roda empat membentuk dua lajur. Hal ini terjadi karena arus kendaraan bermotor dari arah underpass Kentungan bergerak dengan lancar. Ditambah arus kendaraan yang masuk dari Jalan Kaliurang.

Kondisi yang sama juga terjadi di simpang Monjali, khususnya dari arah timur (underpass). Tumpukan kendaraan terlihat sejak dari Gedung Asrama Haji Jogja atau sekitar 1,6 kilometer.

Beberapa pengendara yang melintasi area kemacetan saat ditemui Harian Jogja mengaku hanya ingin menjajal underpass Kentungan. "Iya ingin mencoba saja. Baru dengar semalam kalau underpass sudah dibuka," kata Widodo, warga Pogung Lor, Sleman, Sabtu.

Dia mengatakan meskipun secara bangunan sudah baik, tetapi masih ada yang perlu dilengkapi di underpass tersebut. Seperti pita kejut, penerangan jalan juga masih perlu dimaksimalkan lagi.

Kepala Seksi Managemen Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) DIY Bagas Senoaji, mengatakan uji coba beroperasinya underpass Kentungan akan dievaluasi dalam satu pekan ke depan. "Sepekan ke depan kami akan mengawasi pola pergerakan lalu lintas. Saat ini belum bisa dilaksanakan evaluasi karena pola pergerakan lalu lintas belum terlihat," katanya.

Bagas menjelaskan, setiap ada open traffic untuk ruas jalan baru umumnya selalu diawali dengan kemacetan. Sebagai contoh, saat jalan tol Pantura dioperasionalkan terjadi kemacetan di pintu Brexit dan juga antrean gate di tol Jatingaleh. Hal ini disebabkan masyarakat ingin mencoba jalan baru.

"Kondisi yang terjadi saat ini di underpass tidak jauh berbeda dengan itu. Jika masyarakat sudah terpola pergerakan arus lalu lintasnya pasti jalan akan lancar," katanya.

Bagas menegaskan tujuan dibangunnya underpass Kentungan untuk memperlancar arus kendaraan yang bergerak dari arah barat maupun timur di jalan utama. Sebelum undepass dibangun, arus yang bergerak kerap menumpuk di mulut persimpangan.

"Dengan adanya underpass maka arus menerus yang menumpuk di kaki simpang dapat lewat di underpass sehingga tidak menumpuk di kaki simpang barat ataupun timur jalan," katanya.

Ihwal penumpukan kendaraan di simpang Condongcatur (Gejayan), Bagas mengatakan Dishub menerapkan ulang program traffic light sejak pukul 14.30 WIB. "Secara logika arus besar terjadi dari arah barat karena dari arah underpass arus lalin terus bergerak. Makanya rekayasa lampu APILL akan dilakukan," katanya.

Hal yang sama juga akan diterapkan di simpang Monjali. Menurut Bagas Dishub menerapkan ulang lampu APILL karena pada simpang Monjali arus penumpukan akan terjadi di kaki timur di mana arus dari underpass yang terjadi secara terus-menerus dari arah timur.