ALFINCENT APRILINO : Menjaga Komitmen Menjadi Koko Jogja 2020

Koko Jogja 2020, Alfincent Aprilino - Ist
27 Februari 2020 11:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Koko Jogja 2020, Alfincent Aprilino berjanji menjaga komitmen setelah menjadi Koko Jogja 2020. Sebagai Koko Jogja 2020, ia diberikan tanggung jawab sebagai Duta Budaya Tionghoa, Duta Pariwisata, dan Duta Sosial, oleh karena itu ia merasa bahwa komitmen merupakan hal yang sangat penting untuk dijunjung tinggi.

Alfincent menceritakan awalnya tertarik ikut Koko Cici Jogja 2020 itu karena ia memang ingin ikut kompetisi-kompetisi semacam itu. Hanya seringkali beberapa kompetisi memberikan standar khusus terkait dengan postur tubuh bagi calon pesertanya yang kemudian membuatnya harus mundur. Sampai di November lalu dibuka pendaftaran Koko Cici Jogja 2020 yang persyaratannya menurutnya sangat inklusif. Koko Cici Jogja 2020 tidak memberikan standardisasi kepada calon pesertanya dan tidak membedakan latar belakang yang dimiliki oleh calon peserta baik latar belakang fisik maupun latar belakang identitas. Inklusivitas yang ada inilah kemudian menarik minatnya untuk bergabung dan mendaftar di Koko Cici Jogja 2020.

Dikatakannya, untuk menjadi seorang Koko Jogja bukan hal yang mudah. Banyak proses yang harus ia lewati mulai dari audisi, karantina, malam final, sampai dengan terpilih sebagai Koko Jogja 2020. Bahkan proses yang terjadi tidak berhenti hanya sampai di situ, setelah menjabat pun, ia masih terus berproses, bahkan sampai detik ini dirinya masih berproses untuk menjadi seorang yang lebih baik lagi setiap detiknya.

“Suka dan duka pastinya ada, tetapi bagaimana pun itu adalah proses yang harus saya lalui. Jika ditanya suka, hal yang paling membuat saya bahagia adalah saya berkesempatan bertemu dengan banyak orang yang memiliki latar belakang berbeda-beda dan kami semua dapat dengan cepat beradaptasi satu sama lainnya sehingga saya bisa merasakan bahwa mereka bukan lagi orang-orang yang baru saya kenal, tapi mereka adalah orang-orang hebat yang sekarang sudah menjadi keluarga saya,” kata Alfincent, Rabu (26/2).

Selain itu, ia merasakan ada  kebersamaan dan kehangatan yang terjadi dalam Keluarga Besar Koko Cici Jogja. Ia merasa keluarga besar Koko Cici Jogja adalah kumpulan orang-orang luar biasa yang sangat menerima dengan orang yang masih baru, ini yang membuatnya merasa nyaman berada dalam lingkup ikatan itu. Sementara duka yang ia rasakan diakui tidak banyak dan mungkin datang dari dalam diri sendiri seperti perasaan-perasaan tidak percaya diri dan insecure yang selalu ada di dalam pikiran, tetapi dia bersyukur hal-hal tersebut secara perlahan namun pasti bisa dihilangkan. 

Menjaga Komitmen

Setelah dinobatkan sebagai Koko Jogja 2020 ia berkomitmen untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya Tionghoa, mempromosikan pariwisata Jogja dan membantu masyarakat sekitar yang memang memerlukan bantuan. “Adanya komitmen ini, maka secara tidak langsung saya akan mengabdikan diri saya kepada Ikatan Koko Cici Jogja dan saya siap jika sewaktu-waktu saya harus ditugaskan dan harus meluangkan waktu saya untuk masyarakat, karena sebagai anggota keluarga besar Koko Cici Jogja, saya tidak hanya mengabdikan diri saya kepada Ikatan Koko Cici Jogja tetapi saya juga harus mengabdikan diri kepada masyarakat, terutama masyarakat Jogja,” katanya.

Dia mengatakan saat ini pelestarian Budaya Tionghoa sudah sangat membaik dan berkembang setiap waktunya. Salah satu contoh konkrit yang bisa kita lihat adalah adanya Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) yang diadakan oleh Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC). PBTY merupakan salah satu upaya yang dihadirkan untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya Tionghoa. Antusiasme yang diberikan masyarakat pun sangat besar dan terus berkembang setiap tahunnya.

Hal ini membuatnya yakin perlahan tetapi pasti, budaya Tionghoa akan terus dilestarikan dan dicintai oleh banyak orang. Melihat peran para generasi muda, juga cukup bangga karena saat ini sudah mulai banyak generasi muda yang sadar dan tertarik dalam melestarikan budaya Tionghoa. Tidak hanya Koko Cici Jogja, tetapi generasi muda lain juga mulai mengembangkan diri mereka untuk melestarikan budaya Tionghoa seperti misalnya perkumpulan pemuda dan pemudi Hoo Hap Hwee yang terus melestarikan liong dan barongsai, dan juga Jogja Diabolo Squad yang menjadi salah satu pionir permainan diabolo di Jogja. Peran generasi muda menurutnya sudah baik dan antusiasme yang diberikan pun sangat luar biasa. 

Percaya Diri

Tiga hal setidaknya sebagai kunci sukses yang dipegang oleh Alfincent. “Percaya diri, tetap rendah hati dan jadilah diri sendiri. Saya merasa percaya diri merupakan sebuah senjata yang paling kita butuhkan. Jangan pernah ragu dengan diri sendiri, jangan pernah meremehkan diri sendiri, dan jangan pernah mundur sebelum mencoba,” katanya.

Menurutnya, semua orang memiliki kelebihan masing-masing sehingga tidak perlu minder dengan kelebihan yang dimiliki orang lain. Menjadi seorang Koko Jogja, dia merasa harus tetap rendah hati. Baginya menjadi orang yang rendah hati merupakan sebuah kewajiban bukan kemauan, karena berada di posisi saat ini, ia menyadari tidak bisa seorang diri, dia tetap membutuhkan orang lain untuk mendukung dan membantu. Oleh karena itu menjadi seorang yang rendah hati adalah hal yang sangat penting terutama jika mau dihargai maka hargai orang lain terlebih dahulu.

“Terakhir, tidak lupa untuk menjadi diri sendiri, karena kamu adalah dirimu bukan orang lain, maka dari itu berhenti untuk berpura-pura menjadi orang lain yang bukan diri kita, karena kita pasti memiliki sesuatu yang luar biasa di dalam diri kita,” katanya.

Alfincent berharap bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi, bisa terus mengembangkan potensi yang dimiliki, menjaga komitmen yang telah dibuat, dan ia sangat berharap mampu melayani dan mengayomi masyarakat serta berkontribusi lebih untuk lingkungan sekitar. “Saya juga berharap bahwa saya mampu menjadi teladan yang baik bagi orang lain dan menjaga nama baik Koko Cici Jogja,” ucapnya.

Untuk Koko Cici Jogja, dia berharap bisa menjadi organisasi yang lebih maju lagi, tetap satu dalam segala kondisi, terus menjalin komunikasi, dan mampu menjadi organisasi yang lebih inklusif lagi serta terus mengembangkan budaya Tionghoa terutama yang ada di Jogja. Diharapkannya budaya Tionghoa yang ada di Indonesia semakin dilestarikan, semakin dicintai dan semakin digemari oleh masyarakat.

“Saya juga berharap budaya Tionghoa dapat dimasukkan ke dalam diri masyarakat dan juga dianggap sebagai budaya kita sendiri karena Budaya Tionghoa bukan cuma milik segelintir orang, tetapi budaya Tionghoa adalah milik kita semua,” ucapnya.