FKKMK UGM Dorong Bidang Kesehatan Persiapkan SDM Hadapi Era 4.0

Pembukaan Annual Scientific Meeting 2020 FKKMK UGM di Auditorium FKKMK UGM, Sabtu (29/2/2020).-Harian Jogja - Salsabila Annisa Azmi
01 Maret 2020 03:37 WIB Salsabila Annisa Azmi Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Pemanfaatan teknologi informasi dalam pengembangan bidang kedokteran dan pelayanan kesehatan harus mulai diimplementasikan untuk merespon Revolusi Industri 4.0. Tujuannya agar di era 4.0 ini para pasien mendapatkan berbagai kemudahan dalam mengakses layanan kesehatan.

Berdasar landasan tersebut Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM menyelenggarakan Annual Scientific Meeting (ASM) 2020, Sabtu (29/2/2020) di Auditoriun FKKMK UGM. Dalam seminar itu, disampaikan beberapa arah pengembangan layanan kesehatan di dalam bidang kedokteran dan pelayanan kesehatan dari seluruh dunia.

Plt Staf Ahli Menteri Kementerian Riset dan Teknologi Badan Riset dan Inovasi RI, Prof dr Ali Ghufron Mukti selaku Keynote Speaker mengatakan di era 4.0 sudah seharusnya layanan kesehatan mampu diakses kapan saja dan di mana saja. Misalnya seperti halo doc yang menyediakan konsultasi dokter secara online dan pengecekan kesehatan secara otomatis.

Dalam bidang pengobatan, akan ada tren personalized medicine. Di mana intervensi medis akan disesuaikan dengan respon masing-masing orang terhadap suatu penyakit. "Untuk menyambut era ini, SDM harus dikembangkan. Salah satu caranya adalah memperbaiki ekosistem perguruan tinggi, belakangan ini ada wacana Kampus Merdeka," kata Ali.

Ali mengatakan untuk menciptakan ekosistem kampus merdeka, salah satunya adalah dengan memberi tiga semester bebas magang di luar prodi. "Kemudian ada beberapa mata kuliah yang seharusnya ada tetapi belum ada. Misalnya big data analys, computing, medical technology. Padahal itu lah yang bisa digunakan menjawab tantangan era," kata Ali.

Dekan FKKMK UGM, Prof dr Ova Emilia mengatakan saat ini akademisi dan pihak kampus juga menghadapi tantangan untuk mendidik mahasiswa generasi Z yang merupakan digital native. Mahasiswa yang dengan cepat mengumpulkan informasi melalui ponsel mereka menuntut dosen untuk menyesuaikan kurikulum dan proses pembelajaran. "Tugas kita sebagai pengajar untuk mempersiapkan SDM yang unggul," kata Ova.