Merapi Semburkan Abu 6 Kilometer, Sultan: Ora Papa

Gunung Merapi mengalami erupsi pada Selasa (3/3/2020). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
03 Maret 2020 21:57 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyatakan erupsi Merapi harus disikapi sebagai kewajaran aktivitas gunung berapi. Erupsi dengan skala kecil justru menjadi solusi terbaik daripada meletus dengan skala besar.

Sultan mengatakan tidak masalah meski Merapi erupsi pada Selasa (3/3/2020) pagi. Menurutnya lebih baik erupsi skala kecil tersebut daripada meletus dengan skala besar secara tiba-tiba. “Ora papa [tidak apa-apa], erupsi [skala kecil dengan intensitas sering] itu lebih baik daripada meletus [skala besar], kalau meletus itu ke atas, kalau erupsi itu hanya nek wong Jowo ngarani ndledek [orang Jawa menyatakan istilahnya meleleh],” katanya Selasa (3/3/2020).

Erupsi tersebut perlu disikapi dengan bijak dan tidak perlu dibesar-besarkan. Karena warga sekitar lereng Merapi sudah terbiasa. “Kalau itu disumpeli malah repot, memang Merapi itu Gunung teraktif di dunia kok. Kita saja yang mempermasalahkan, coba tanya sekitar merapi, mereka biasa,” ujarnya.

Sultan tidak mempermasalahkan dengan masih beroperasinya penambangan warga di sekitar sungai yang berhulu di Merapi. Ia yakin jika sudah merasa terganggun maka penambang akan meninggalkan lokasi tersebut untuk mencari tempat aman. Sultan percaya warga sekitar lereng Merapi sudah bisa membaca aktivitas gunung tersebut dan bisa mengambil langkah terbaik jika terjadi peningkatan aktivitas.

“Enggak apa-apa kalau merasa terganggu kan dia minggir sendiri, orang lereng Merapi sudah tahu sendiri apa yang harus dilakukan, tidak usah diajari. Karena mereka sudah [merasakan] setiap empat tahun sekali ada kejadian, dia sudah punya pengalaman,” ucapnya.