Panik Wabah Corona, Stok Masker di Sleman Menipis

Kertas pengumuman "Maaf Stock Masker Kosong" dipasang di pintu Apotik Hayam Wuruk, Jogja, Selasa, (3/3/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
03 Maret 2020 20:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Dinas Kesehatan Sleman mengimbau agar masyarakat tidak panik dengan isu wabah Corona. Khususnya terkait penggunaan masker, masyarakat diharapkan lebih bijak menggunakannya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Djoko Hastaryo menjelaskan, saat ini Dinas menerapkan kebijakan efisiensi penggunaan masker. Kebijakan tersebut diambil lantaran jumlah masker di pasaran saat ini terbatas. Apalagi stok masker yang dimiliki Dinas sebenarnya untuk persiapan jika erupsi Merapi terjadi.

Menurutnya, stok masker harus tersedia minimal 30% dari jumlah penduduk Sleman. Hanya saja jumlah masker saat ini terus berkurang seiring dengan sulitnya Dinas mendapatkan barang tersebut dari distributor.

"Jumlah masker yang biasa saat ini tinggal sekitar 542.000 lembar dan masker N-95 sekitar 2.420 masker. Kalau dibilang kurang ya kurang, makanya kami lakukan efesiensi agar pendistribusiannya lebih tepat," katanya, Selasa (2/3/2020).

Dijelaskan Djoko, di Puskesmas rata-rata stok masker yang disediakan 1.000 lembar per Puskesmas. Masker tersebut biasanya digratiskan bagi pengunjung yang membutuhkan. Namun saat ini, pihaknya meminta Puskesmas agar hanya memberikan masker kepada pasien yang sudah diperiksa dan sakit.

Penggunaan masker saat ini diprioritaskan bagi pasien ISPA, mengarah pneumonia, batuk pilek dan sesak napas. "Masyarakat yang sehat dan tidak sakit tidak perlu menggunakan masker. Cukup dengan menjaga kondisi tubuh agar fit," katanya.

Seiring merebaknya wabah Corona, Dinkes berharap agar masyarakat lebih meningkatkan pola hidup bersih dan sehat agar terhindar dari virus tersebut. Selain PHBS, warga juga diminta untuk selalu menjaga kondisi tubuh tetap fit, rajin berolah raga dan mengonsumsi vitamin dan jamu.

Dinas, katanya, meminta agar seluruh Puskesmas untuk tidak menyepelekan pasien dengan gejala ISPA. Penanganan pasien ini juga harus dilengkapi dengan wawancara. "Jika ada gejala demam, sakit tenggorokan, batuk dan sesak nafas, apalagi ada kontak kunjungan dari luar negeri, harus dirujuk Sarjito atau panembahan Senopati," ungkapnya.