Jogja Butuh Masker Pascaerupsi Merapi, Stok Sudah Langka Gara-Gara Corona

Kertas pengumuman "Maaf Stock Masker Kosong" dipasang di pintu Apotik Hayam Wuruk, Jogja, Selasa, (3/3/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
03 Maret 2020 13:47 WIB Newswire Jogja Share :


Harianjogja.com, JOGJA- Erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada Selasa (3/3/2020) menimbulkan hujan abu di lerengnya. Kondisi ini membuat warga di DIY perlu masker.

Sayangnya, di tengah kebutuhan pasokan masker bedah untuk menangkal hujan abu vulkanik, stok masker di Jogja mengalami kelangkaan karena banyak warga panik setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan dua WNI di Depok positif COVID-19, Senin (2/3/2020) malam.

Sejumlah warganet lantas mengeluhkan kondisi ini di media sosial, salah satunya Twitter. Mereka kesal karena kesulitan mendapatkan masker di kala hujan abu mendera.

"Woi yang jual masker harga selangit, ini enggak mikir buat warga Jogja dan sekitarnya? Ini ujan abu lo, lebih urgent daripada Corona," cuit @yayanayaa.

"Pengumuman Corona di indo, besoknya ujan abu di jogja-solo-sekitarnya. Mau beli masker buat ujan abu udah keabisan duluan sama orang yang panik gara-gara Corona. Padahal beneran butuh," keluh @kuswanrifky.

Sementara itu, akun @RRMANDASARI menyertakan foto-foto rak di minimarket, di mana stok masker dan hand sanitizer banyak yang kosong.

"Panic Attack, warga Jogja bar-bar juga. Belum ada 24 jam, stock masker & handsainitizer semua kosong! K24, Alfamart, indomart, WS, Mulia, Maga, Mirota Kampus, bahkan Superindo, semuanya nihil," terangnya.

Kelangkaan masker ini diakui Neva, salah seorang pegawai apotek di kawasan Umbulharjo, Yogyakarta. Ia menuturkan bahwa stok masker yang dijual kosong. Jikapun ada, harga satu kotak masker bisa meningkat dua kali lipat.

"Sebelumnya satu kotak kami jual dengan harga Rp30 ribu. Karena maraknya virus ini kami menjualnya hingga Rp75 ribu. Saat ini stoknya kosong, kami juga biasa menjual per masker Rp1.000, sekarang harganya naik hingga Rp1.500-2.000 per masker," terang dia.

Dinas Kesehatan (Dinkes) DI Yogyakarta lantas mengimbau masyarakat untuk tidak membeli masker terlalu banyak bahkan sampai mengumpulkan masker secara berlebihan.

"Yang jelas masyarakat selalu memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan. Masyarakat harus tetap menjaga kesehatan dengan melakukan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS). Yang utama adalah cuci tangan pakai sabun dan batuk yang beretika [menutup dengan siku dalam tangan atau kain]," kata Kepala Dinkes DIY Pembayun Setyaning Astutie saat dikonfirmasi SuaraJogja.id, Selasa.

Menyusul pengumuman pada Senin bahwa dua WNI positif COVID-19 hingga kepanikan warga yang menyebabkan masker langka, Gunung Merapi mengalami erupsi pada keesokan harinya, Selasa pukul 5.22 WIB.

Dampaknya, sejumlah wilayah di sekitar Yogyakarta dan Solo, seperti Kabupaten Boyolali, Klaten, hingga Sukoharjo, mengalami hujan abu. Humas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) pun mengimbau masyarakat untuk senantiasa mengenakan masker ketika bepergian keluar rumah.

"Hujan abu Merapi dilaporkan terjadi di Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo. Jalan Yogya-Solo wilayah timur juga terdampak hingga jarak pandang terbatas. Selalu waspada dan hati-hati ya.. Jangan lupa kenakan masker saat bepergian… Tetap semangat," kicau akun resmi @humasjateng.

Sumber : Suara.com