Cuaca Ekstrem, Pemkab Bantul Tetapkan Status Tanggap Darurat

Debit air di Dam Klegen di Desa Mulyodadi, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul terus meninggi, Kamis (5/3/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
06 Maret 2020 01:47 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Pemerintah Kabupaten Bantul resmi menetapkan status tanggap darurat bencana mulai Kamis (5/3/2020) hingga 30 April mendatang. Penetapan tanggap darurat bencana ini menyusul dampak cuaca ekstrem yang terjadi di Bantul dan pemulihannya membutuhkan waktu sekitar dua bulan.

“Dengan peningkatan status [dari siaga darurat ke tanggap darurat] itu, harapannya, sarana-sarana vital yang perlu segera penanganan darurat akan didahulukan, sehingga tidak menimbulkan kerusakan yang lebih parah lagi,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, Dwi Daryanto, seusai rapat kordinasi Tanggap Darurat Menghadapi Cuaca Ekstrem di ruang bupati Bantul, Kamis (5/3/2020).

Rapat yang dipimpin langsung oleh Bupati Bantul Suharsono tersebut dihadiri sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) membahas antisipasi dan langkah-langkah yang perlu dilakukan Pemkab menyikapi dampak cuaca ekstrem yang dipredikasi masih akan berlangsung sampai beberapa hari ke depan.

Dwi mengatakan dengan adanya peningkatan status penanganan bencana, koordinasi pemlihan lintas instansi diharapkan lebih cepat, termasuk dapat memanfaatkan dana tak terduga, hingga pengajuan dana ke provinsi dan pusat. Namun demikian pihaknya akan mendahulukan penanganan dampak kerusakan langsung ke masyarakat dan fasilitas publik lainnya.

Ia belum bisa menghitung dampak kerusakan yang terjadi selama dua hari terkahir ini. Namun hujan yang terjadi selama hari berturut-turut menyebabkan sejumlah pergerakan tanah atau longsor di 11 titik, 14 titik genangan air yang masuk pemukiman akibat luapan air, dan 10 titik pohon tumbang.

Dwi memperkirakan kerugian mencapai Rp348 juta. Namun estimasi kerugian tersebut belum mencangkup kerusakan infrastruktur seperti talut, jalan, daerah aliran sungai (DAM), dan rumah.

Menurut Dwi, cuaca ekstrem yang terjadi bukan hanya di Bantul, namun daerah lain secara keseluruhan di DIY. Namun dampaknya Bantul yang merasakan jika terjadi hukan deras terutama di Sleman dan Jogja.

“Bantul salah satu paling terdampak, karena air alirannya ke sini semua, terbukti sudah bnyak sarana prasarana yg mengalami kerusakan, jembatan, tanggul, DAM dan beberapa rumah masyarakat yang tergenang walapun baru halamannya,” ujar Dwi.

Kendati demikian, Dwi memastikan masyarakat sudah siap menghadapi bencana hidrometeorologi tersebut. Ketika terjadi hujan di hulu sungai, masih ada kesempatan sekitar tiga jam bagi masyarakat di Bantul untuk mempersiapkan diri kemungkinan adanya peningkatan volume air sungai hingga luapan. Sejauh ini dari laporan yang dia terima sebagian besar genangan air hanya sampai jalan dan halaman. Sementara yang sampai masuk rumah hanya beberapa dan genangannya tidak lebih dari 20 sentimeter.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul, Helmi Jamharis mengatakan Pemkab Bantul masih memiliki dana tidak terduga sebesar Rp3 miliar tahun ini yang belum digunakan. Dana tersebut diakuinya dapat dimanfaatkan untuk penanganan dampak bencana. Pihaknya masih mencermati bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) terkait kebutuhan dana pemulihan selama masa tanggap darurat ini

“Kami akan cermati sekaligus ditetapkan berapa dana yg bisa dicairkan untuk kegiatan tanggap darurat itu,” kata Helmi.

Helmi mengatakan penanganan bencana tidak hanya bersumber dari BPBD, namun OPD lainnya juga dapat melakukan pemulihan melalui anggaran yang sudah direncanakan di masing-masing OPD seperti Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan kawasan Permukiman (DPUPKP) dan Dinas Lingkungan Hidup.