Disebut Lebih Ganas dari Corona, Ribuan Warga Bantul Menderita TBC

Ilustrasi kampanye stop TBC. - JIBI
10 Maret 2020 18:57 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Dinas Kesehatan Bantul menyebut penderita penyakit tuberkulosis atau TBC di Bantul masih cukup tinggi, sementara angka kesembuhan masih rendah, masih di bawah angka rata-rata nasional. Penyakit yang disebabkan bakteri mycobacterium tuberculosis tersebut dinilai lebih mematikan ketimbang virus corona yang saat ini sedang ramai dilaporkan.

“Ya TBC lebih ganas dari virus corona. Bakteri tuberkulosis bisa bertahan hidup lebih lama, bisa berhari-hari dan potensi penularannya tinggi dimana pun. Kalau virus corna begitu keluar dari makhluk hidup [penderita] kecuali ada kontak langsung penderita,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul, Tri Wahyu Joko Santoso, saat ditemui di kantornya, Selasa (10/3/2020).

Pria yang akrab disapa dokter Oky ini memaparkan sampai akhir 2019 lalu data penderita TBC di Bumi Projotamansari sebanyak 1.072 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak tiga orang di antaranya meninggal dunia. Jumlah penderita tersebut diakuinya merupakan kasus yang dapat ditemukan dan terdata melalui fasilitas kesehatan.

Ia menduga masih ada penderita TBC lainnya yang tidak terdata yang sampai saat ini masih terus dilakukan penyisiran dengan melibatkan sejumlah pihak. Oky menyatakan kasus TBC harus ditemukan dan disembuhkan karena dapat penular lebih cepat, bahkan berpotensi mematikan jika daya tahan tubuh penderita lemah.

“TBC mengakibatkan sakit yang kronis penyembuhan cukup lama. Penyebarannya juga cukup luas,” kata dia. Meski daya tahan tubuh kuat, jika salah satu organ dalam tubuh lemah, kata Oky maka dapat menyerang organ tubuh yang lemah tersebut, “Misalnya jika menyerang paru-paru tapi paru-parunya kuat kemudian ada organ lainnya lemah seperti usus maka akan meneyerang usus,” ucap dia. Bakteri tuberkulosis juga cepat berkembang biak karena.

Namun secara umum pihak-pihak yang paling rentan tertular TBC adalah penderita penyakit jantung, hipertensi, diabetes, autoimun, dan HIV-Aids. Kendala yang ditemukan dilapangan selama ini dasi sisi masyarakat masih ada yang menstigma negatif sehingga penderita TBC dikucilkan, banyak penderita yang sudah lama batuk namun takut berobat.

Selain itu, Oky juga tidak menampik layanan kesehatan yang ada di Bantul tidak cukup tersedia petugas untuk melacak para penderita TBC. Pihaknya sudah berupaya membangun jejaring dengan berbagai pihak, lembaga swadaya masyarakat, kader kesehatan, hingga membentuk gerakan terpadu di delapan kecamatan, serta pembentukan juru pemantau batuk (Jumantuk).

Saat ini tiga rumah sakit di Bantul juga sudah dilengkapi alat tes cepat moletor (TCM) untuk mendeteksi penderita TBC. Alat tersebut baru tersedia di Rumah Sakit Umum panembahan Senopati Bantul, RS Respira, dan Puskesmas Bambanglipuro. Alat itu langsung dapat mendeteksi TBC melalui komputer tanpa harus dianalisa langsung oleh analis. “Nanti alat ini juga akan diperbanyak lagi,” ujar Oky.

Lebih lanjut Oky mengatakan angka kesembuhan penderita TBC juga masih rendah. Ia menyebut angka kesembuhan masih sekitar 85% atau dibawah angka rata-rata nasional 90%. Sisanya meninggal dunia, droup out atau tidak melanjutkan proses pengobatan, dan ada juga yang pindah tempat tinggal namun tidak terdeteksi.

Ia menegaskan penderita TBC dapat disembuhkan selama penderita menjalani pengobatan secara teratur dan terus menerus selama tiga bulan atau sampai sembilan bulan tergantung anjuran dokter. Sebab jika tidak rutin mengkonsumsi obat TBC, maka penyakit tersebut dapat kebal terhadap obat atau sulit disembuhkan.