Rusak, Tiga Jembatan di Sleman Ditutup

Kondisi jembatan merah yang ditutup karena pondasi jembatan sudah mengkhawatirkan, Senin 99/3/2020). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
10 Maret 2020 08:07 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Tiga pondasi jembatan mengalami kerusakan akibat banjir yang terjadi pada 5 Maret 2020 lalu. Agar kerusakan tidak tambah parah, ketiga jembatan tersebut ditutup untuk sementara waktu.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mencatat jembatan yang rusak dan sementara waktu tidak difungsikan berada di jalan Pandean Sari, Condongcatur, Depok. Jembatan ini dibangun dengan konstruksi berbeda baik sisi selatan maupun utaranya. Kerusakan jembatan terjadi pada sisi selatan akibat banjir yang terjadi pada 5 Maret lalu.

Masyarakat masih bisa menggunakan jembatan sisi utara untuk melewati jalan Pandean Sari. Hanya saja, untuk melewatinya dilakukan secara bergantian. "Ini karena talud dan pondasi jembatan di sisi selatan longsor. Dikhawatirkan kerusakan bertambah parah untuk sementara jembatan kami tutup dulu," kata Kepala Bidang Kedaulatan dan Logistik BPBD Sleman Makwan, Senin (9/3/2020).

Selain di Pandean Sari, jembatan yang rusak juga terjadi di perumahan Jombor Baru Sendangadi, Mlati. Badan jalan dan sayap dam di lokasi tersebut ambrol. Sayap jembatan tergerus air mengakibatkan taludnya ambrol sepanjang 30 meter setinggi 2,5 meter dan selebar 10 meter.

"Bahu jalan atas ambrol sepanjang tiga meter, selebar 10 meter setinggi 12 meter. Lokasi longsor diberi terpal agar longsoran tidak semakin parah. Untuk sementara, jalan tersebut ditutup total sebelum ada perbaikan. Talud harus dibronjong dan dari pihak desa siap untuk material bronjong," katanya.

Jembatan terakhir yang ditutup karena mengalami kerusakan adalah Jembatan Merah di Gejayan Condongcatur. Sebagian talud baik di sisi Barat maupun Timur jembatan juga mengalami longsor akibat banjir kemarin. Dikhawatirkan pondasi tidak kuat jika kembali terjadi banjir, maka jembatan merah sudah tidak bisa dilewati oleh kendaraan roda empat.

"Jembatan hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Untuk roda empat tidak diijinkan melintas. Ada permasahan pembebasan tanah, sehingga rencana pembangunan jembatan itu mundur," katanya.

Belum Dianggarkan

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Pemukiman (DPUPKP) Sleman Sapto Winarno mengatakan penutupan Jembatan Merah sudah dilakukan akhir Februari lalu. Hal itu dilakukan oleh DPU mengingat kondisi di bagian bawah jembatan sudah tidak baik.

DPU Sleman hanya bisa melakukan proses perbaikan aspal jembatan beberapa kali dan belum bisa mengganti dengan jembatan baru. Alasannya terkendala proses pembebasan lahan. "Untuk sementara yang boleh melintas hanya sepeda motor. Untuk peningkatan jembatan, kami menunggu proses pembebasan lahan dan sudah ada titik temu," katanya.

Menurut Sapto, Pemkab tahun ini akan membebaskan lahan tersebut agar rencana peningkatan Jembatan Merah bisa segera dilakukan. Pasalnya, kata Sapto, Detail Engineering Design (DED) sudah disiapkan sejak beberapa tahun lalu. "Tahun ini pembebasan lahan kami tuntaskan. Tapi pembangunan jembatan tidak bisa dilakukan tahun ini. Paling cepat tahun depan," katanya.

Kepala Bidang Bina Marga DPUPKP Sleman Achmad Subhan mengatakan pembangunan jembatan merah mendesak dilakukan untuk mengimbangi perkembangan pembangunan di wilayah Gejayan. Sebab jalan Gejayan sering mengalami kemacetan sehingga jembatan merah selalu menjadi jalur alternatif bagi masyarakat.

"Desain jembatan merah yang baru, memiliki ukuran 8 meter x 16 meter. Karena didesain lebih luas dan lebih lebar, nantinya jembatan ini bisa digunakan untuk dua arah," katanya.