Dampak Virus Corona, Okupansi Hotel di Jogja Turun 50%

Mahasiswa dan warga pegiat sejarah mendengarkan penjelasan tentang kampung Pecinan Ketandan di kawasan Malioboro saat mengikuti jalan-jalan sore, Malioberen di sepanjang jalan Malioboro, Jogja, beberapa waktu lalu./ JIBI/Harian Jogja - Desi Suryanto
13 Maret 2020 05:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA— Dampak virus Corona, okupansi hotel di DIY turun hingga 50% jika dibandingkan bulan yang sama pada tahun lalu.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono mengatakan dampak virus Corona yang dirasakan pengusaha hotel dan restoran saat ini sangat berat.

Dampak menurutnya begitu setelah setelah Presiden mengumumkan adanya Corona di Indonesia dan saat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melarang berwisata di Nusantara untuk anak-anak.

“Menjadikan wisman dan wisnus turun tajam, tingkat hunian saat ini rata-rata hanya 30% sampai dengan 40%. Padahal pada bulan Januari Februari lalu mencapai 60% sampai 70%,” kata Deddy, Kamis (12/3/2020).

Deddy mengatakan saat ini belum ada hitungan pasti dampak virus Corona ini. Meski belum sampai merumahkan sementara para pegawai, namun efisiensi dalam pengeluaran pun saat ini mulai dilakukan.

Saat ini upaya yang coba dilakukan pihak PHRI mencoba menjaga survive hotel, restoran dengan efisiensi dan gencar promosi.

“Hotel dan restoran saat ini nafasnya sudah tersengal-sengal. Kita berharap pemerintah segera memberikan stimulus 0% pajak hotel restoran, betul-betul diberikan kepada tamu-tamu yang sudah dijanjikan untuk diterapkan Pemda, dan menunda kenaikan atau memberikan keringanan PBB, pajak air limbah dan tariff PDAM. Melihat situasi kondisi saat ini,” ujarnya.