Karena Corona, Tak Ada Ekspor Bulus dan Sidat ke China

Warga menyiapkan seekor bulus yang hendak dilepaskan di area budi daya bulus dan sidat di Desa Sidomoyo, Kecamatan Godean, Sleman, Rabu (18/3/2020). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
18 Maret 2020 18:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Merebaknya virus Corona (Covid-19) menjadi penyebab anjloknya angka ekspor komoditas bulus dan ikan sidat ke China.

Pembudidaya Bulus dan Sidat Affandi Mustafa mengatakan pasar utama ekspor bulus saat ini memang ke China. Setelah diekspor ke China, lanjut Affandi, nantinya bulus akan didistribusikan lagi ke sejumlah wilayah.

"Setelah dikirim ke China nantinya akan didistribusikan lagi ke wilayah lain seperti Taiwan, Korea Selatan, Singapura, dan juga Jepang. Dengan adanya Covid-19, angka ekspor menurun drastis," kata Affandi, di sela sela pelepasan bulus dan sidat di Sidomoyo, Godean, Sleman, Rabu (18/3/2020).

Tidak hanya bulus, pasar ekspor ikan sidat juga berdasarkan catatan dari Affandi adalah ke wilayah Jepang. Hal tersebut dikarenakan, di Kitakyushu sebuah kota yang terletak di prefektur Fukuoka, Jepang mempunyai tradisi membuat penganan unagi kabayaki yang berbahan baku daging ikan sidat yang dibakar kemudian dibagikan ke warga.

"Ibarat di Jawa itu, kue apam saat Ruwah. Unagi kabayaki sudah jadi tradisi di Jepang yang sampai sekarang masih eksis. Itulah sebabnya permintaan sidat terutama dari Indonesia lumayan tinggi," ujar Affandi.

Hal itu diperparah dengan permintaan bulus dan ikan sidat dari dalam negeri yang belum juga meningkat. “Kalau dalam negeri, kami lebih banyak menyasar kota besar seperti Jakarta, Bali, Surabaya, Batam, dan Makassar," ujar pria yang juga sebagai pemrakarsa pelestari biota sidat, bulus dan iwak kali (Sibulika) tersebut.

Disinggung soal harga, bulus dan ikan sidat sebenarnya cukup menjanjikan. Di pasaran, kata dia, bulus dipatok dengan harga Rp80.000-Rp90.000 per ekor. “Kalau sidat tergantung jenisnya. Ada yang dari budi daya, ada yang dari alam. Kalau dari budi daya bisa mencapai Rp200.000 per kilogram, sedangkan sidat alam hanya Rp90.000 per kilogram," kata dia.

Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Sri Purwaningsih mengatakan jika kebutuhan akan sidat di Kabupaten Sleman sebenarnya tinggi. Namun, hal tersebut memang tidak dibarengi dengan pasokan yang ada di pasaran.
"Di Sleman, selama ini memang belum ada budi daya sidat. Semoga di Sidomoyo, Godean, Sleman bisa menjadi pilot project budi daya bulus dan sidat, karena di pasaran harga bulus dan sidat juga tidak murah," ucap dia.