Pakar: Tingkat RT Perlu Monitoring Pergerakan Penduduk

Sejumlah warga di dusun Besi, Sardonoharjo, Ngaglik Sleman saat menutup akses masuk ke wilayahnya, Jumat (27/3/2020) untuk antisipasi penyebaran Covdi-19.-Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
31 Maret 2020 11:47 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Wabah virus Corona penyebab Covid-19 yang kian meluas berdampak pada perantau, terutama yang bekerja di Jakarta. Tidak sedikit yang memilih untuk mudik ke kampung halamannya. Kondisi ini berpotensi penyebaran virus Corona ke dareah-daerah di Tanah Air.

Pakar Migrasi dan Kependudukan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Sukamdi, M.Sc., menyebutkan terdapat beberapa hal yang patut diantisipasi terkait banyaknya perantau yang pulang kampung karena wabah Covid-19. Salah satu yang utama adalah memantau pemudik dari daerah pusat endemi virus Corona.

"Yang pulang dari daerah pusat endemi perlu dimonitor," tuturnya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Selasa (31/3/2020).

Selain itu, monitoring juga perlu dilakukan kepada individu yang pergi ke daerah lain. Misalnya, orang Jogja pergi beraktivitas ke Solo atau tempat lainnya.

Dia mengatakan untuk memantau pergerakan baik penduduk yang datang dari luar daerah maupun yang pergi ke luar daerah akan mudah dilakukan melalui sebuah sistem informasi.

"Bisa membuat sistem informasi yang sederhana untuk memonitor gerakan penduduk yang keluar masuk. Ini bisa dimulai dari tingkat RT dan dikompilasi masuk ke dusun," terang dosen Fakultas Geografi UGM ini.

Dalam sistem informasi tersebut ada seperti data kapan pergi, berapa lama dan dilengkapi identitas diri yakni usia, jenis kelamin, serta pekerjaan. Dalam sistem ini ada dua komponen yang harus ada yaitu yang bisa diakses publik seperti jumlah yang datang dan pergi dan akes terbatas bagi pengambil kebijakan seperti siapa saja yang memiliki gejala Covid-19.

"Sistem seperti ini nantinya dapat direplikasi ke tingkat kelurahan, kecamatan, hingga kabupaten," ucapnya.

Sukamdi menyebutkan saat ini di tempat tinggalnya di dusun Sedan, Sariharjo, Ngaglik, Sleman juga tengah berupaya membangun sistem informasi terkait pergerakan penduduk yang datang dan pergi. Dalam membangun sistem ini, kata dia, perlu melibatkan generasi muda guna mengatasi kendala gagap teknologi dari generasi sebelumnya.

Selain membangun sistem informasi, Sukamdi menekankan perlunya membangun jaring pengaman sosial bagi masyarakat, terutama masyarakat miskin. Hal ini bisa dilakukan dengan menggerakan komunitas atau masyarakat sekitar.

"Penting membangun social safety net berbasis partisipasi masyarakat sekitar untuk mengatasi dampak wabah Covid-19," pungkasnya.