Sempat Ditolak RS Rujukan, Dua Pasien Kritis Diduga Covid-19 Meninggal Dunia

Foto ilustrasi: Penanganan pasien virus Corona. - Reuters
31 Maret 2020 13:37 WIB Ujang Hasanudin Sleman Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Sebanyak dua dari tiga pasien yang dirujuk oleh Rumah Sakit Nur Hidayah ke RSUP Dr. Sardjito karena mengalami gejala klinis Covid-19 akhirnya meninggal dunia. Sebelumnya kedua pasien tersebut terlantar karena tidak mendapat penanganan lebih lanjut dari rumah sakit rujukan dengan alasan over kapasitas.

Direktur Rumah Sakit Nur Hidayah, Sagiran mengonfirmasi kabar kedua pasien yang dirujuknya meninggal dunia. Sagiran mengatakan pada Senin (30/3/2020) pagi RS Nur Hidayah memang menerima tiga pasien dengan keluhan demam tinggi, nyeri tenggorokan, dan sesak napas. Dia menduga kuat gejala itu mengarah ke Covid-19.

Itulah sebabnya dia berupaya merujuk ketiga pasien tersebut ke rumah sakit rujukan. Akan tetapi dari 23 rumah sakit yang dihubungi Nur Hidayah, kata Sagiran, menolak dengan berbagai alasan, mulai dari penuh, diminta menghubungi Gugus Tugas Covid terlebih dulu, dan berbagai alasan lainnya. Pihaknya juga sudah berupaya menguhubngi tim gugus tugas, tetapi diminta langsung menuju rumah sakit rujukan.

Akhirnya setelah berkoordinasi dengan Pemkab Bantul, ketiga pasien dirujuk pada Senin malam. Kedua pasien dirujuk ke RSUP Dr. Sardjito dan seorang pasien dirujuk ke RSUD Sleman.

Menurut Sagiran dua pasien yang dirujuk ke Sarjito, semuanya meninggal dunia. “Saya bersedih begitu kami berupaya untuk mendapatkan rujukan itu sampai pukul 20.00 WIB, baru terkirim pasien ketiga dan sekitar pukul 23.00 mendapatkan kabar duka [pasien pertama meninggal dunia] dan pukul 07.00 [Selasa, 31/3] mendapatkan berita pasien kedua meninggal dunia,” kata Sagiran, Selasa (31/3/2020).

Data dari RS Nur Hidayah, data pasien rujukan yang meninggal dunia di RSUP Dr. Sardjito keduanya adalah laki-laki asal Bantul.

data pasien rujukan yang meninggal di Sarjito keduanya laki-laki asal Bantul, yang satu berusia 59 tahun dengan keluhan demam, batuk dan sesak napas. Kondisi tensi 80 dan Co2 kurang dari 88. Tak ada riwayat kontak berdasarkan keterangan keluarga pasien.

Sementara satu lagi usia 48 tahun mengalami demam dua minggu, sesak napas dua hari, batuk dan lemas. Pasien tersebut merupakan suami sari seorang petugas kesehatan. Hasil rontgen pneunomonia.

Sagiran mengaku tidak bisa memastikan apakah kedua pasien tersebut terjangkit virus Corona atau tidak karena itu menjadi kewenangan Gugus Tugas Covid-19.

Dokter spesialis bedah tersebut berharap dengan meninggalnya kedua pasien itu ada perbaikan dalam penanganan pasien Covid-19. Dia menilai pandemi Covid-19 ini ibarat bencana sehingga memerlukan peringatan dini bagi pemangku kebijakan untuk menyiapkan segalanya mulai dari fasilitas kesehatan hingga alat pelindung diri (APD).

Dia mengungkapkan kesedihannya ketika mengingat tiga pasien itu sulit mendapat rujukan. Sementara di rumah sakit fase awal tidak dibekali APD oleh pemerintah. “Jadi ini harus menjadi keprihatinan kita bersama,” ujar Sagiran.