Desa Sumbermulyo Bantul Sediakan Rumah Karantina bagi Pemudik

Kepala Desa Sumbermulyo, Ani Widayani (depan), Camat Bambanglipuro, Lukas Sumanasa, beserta Satgas Covid-19 Desa Sumbermulyo, berfoto bersama di depan rumah karantina, Kamis (2/4/2020). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
02 April 2020 11:07 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Pemerintah Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, telah menyiapkan tiga rumah karantina bagi para pendatang maupun pemudik yang baru datang dari luar daerah. Mereka yang berkunjung maupun pulang ke wilayah Sumbermulyo diwajibkan mengkarantina diri selama 14 hari di rumah karantina tersebut.

Tidak hanya menyediakan tempatnya, namun pemerintah desa setempat melalui Satuan Tugas Coronavirus Disease atau Covid-19 tingkat desa juga menjamin kebutuhan hidup pendatang dan pemudik selama dalam proses karantina. “Konsumsi dan makanan ditanggung Satgas sehari tiga kali makan. Kesehatan mereka juga dipantau tiap saat selama dikarantina,” kata Kepala Desa Sumbermulyo, Ani Widayani, Kamis (2/4/2020).

Salah satu rumah karantina yang sudah terisi adalah gedung Semaul atau gedung putih milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sumbermulyo. Gedung yang dibangun 2017 itu mirip bangunan istana. Semua bangunan berwarna putih, kecuali pintu dan jendela yang berwarna coklat muda. Terdapat enam pilar besar di bagian depan.

Halaman depan bangunan yang berada di Jalan Samas, Gandekan, Kaligondang, Sumbermulyo, tersebut cukup lapang. Bagian dalam terdapat lima kamar tidur, dapur, ruang tamu, dan ruang tengah. Gedung itu juga cukup jauh dari pemukiman warga, justru berdampingan dengan Puskesmas Bambanglipuro.

Ani mengatakan gedung itu untuk sementara digunakan sebagai tempat karantina selama masa pandemi Corona, terutama bagi pemudik dan pendatang. Selanjutnya kriteria yang pendatang dan pemudik yang perlu di karantina adalah jika lokasi tujuan terdapat orang yang rentan seperti balita, lansia, ada ada keluarga yang sakit stroke, diabetes, darah tinggi, atau tuberkulosis, serta pendatang atau pemudik yang mendapat penolakan dari masyarakat.

Tempat karantina di gedung putih ini dapat menampung sampai 20 orang. Namun saat ini sudah ditempati lima orang pendatang dari Bandung, Jawa Barat. Namun dalam kondisi sehat, “Keluarga ini kontrak di salah satu pedukuhan dan melakukan perjalanan ke Bandung, kemudian saat kembali [mendapat penolakan warga] kami mediasi dan kami tampung,” kata Ani.

Selain gedung putih, dua rumah karantina lainnya yang disiapkan Desa Sumbermulyo sau gedung pertemuan yang berlokasi di kompleks balai Desa Sumbermulyo di Jalan Ganjuran dan satu lagi adalah rumah warga yang belum dihuni. Ani berharap dengan adanya rumah karantina suasana di desanya tetap kondusif dan semua warga fokus sama-sama melawan virus Corona.

Tidak hanya menyiapkan rumah karantina, namun Desa Sumbermulyo juga sudah menyiapkan anggaran untuk penangaan Covid-19 ini. Anggaran tak terduga untuk kegawatdaruratan yang tadinya Rp48 juta sudah bertambah menjadi Rp200 juga hasil pergeseran sejumlah kegiatan yang dibiayai dana desa (DD). Warga miskin yang terdampak langsung secara ekonomi akan mendapatkan sembako berupa beras, telur, mie instan, dan minyak goreng yang diantarkan langsung ke rumah-rumah.