Berurusan dengan Corona, Keluarga di Depok Sleman Kesal dengan Layanan Kesehatan di DIY

Dokter sedang melakukan perawatan pada pasien virus corona. - Reuters
11 April 2020 07:17 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Salah satu keluarga pasien positif Covid-19 asal Depok, Sleman yang meninggal dunia pada 21 Maret lalu menceritakan pengalaman yang mereka lalui saat mengakses layanan kesehatan di DIY, lantaran berurusan dengan Covid-19.

Fandy Hanifan, putra sulung almarhum Sudarto, 70, yang meninggal dunia akibat virus Corona kepada Harianjogja.com menceritakan hari-hari sebelum ayahnya sakit berat, meninggal dunia, lalu dinyatakan positif terinfeksi virus Corona. Pria yang biasa disapa Irvan itu sangat yakin ayahnya terinfeksi virus Corona selama berada di Jogja, yakni tertular dari orang lain yang ditemuinya di Jogja, bukan kasus impor seperti kebanyakan kasus positif Corona di DIY.

“Bapak itu enggak ada perjalanan ke luar [ke luar negeri maupun ke luar daerah], karena kondisinya sudah sakit strok enggak bisa ke mana-mana,” tegas Irvan, Rabu (8/4/2020) lalu.

Hingga kini pihak keluarga, kata Irvan, masih bertanya-tanya dari mana almarhum tertular virus Corona di Jogja. Ia menduga ada sejumlah aktivitas yang disinyalir menyebabkan ayahnya terinfeksi Covid-19. Pertama dari adiknya yang baru puang dari Selandia Baru, dari para kolega yang menjenguk ayahnya di rumah saat sakit atau dari lingkungan RS Bethesda tempat almarhum menjalani terapi strok sebelum meninggal.

Irvan menceritakan, adiknya yang bernama Sari, 32, baru pulang dari Selandia Baru pada 10 Maret lalu, dengan transit semalam di Jakarta. Sari berangkat ke Selandia Baru pada 29 Februari 2020. Saat itu, kata dia, belum ada kasus virus Corona di Selandia Baru. Sedangkan di Jakarta (saat transit dari Selandia Baru), adiknya hanya semalam karena esok harinya langsung terbang ke Jogja.

Sebelumnya pada 1 Maret, almarhum sudah diopname di RS Betehsda karena penyakit strok, dan diperbolehkan pulang pada 5 Maret. Almarhum dijadwalkan terapi pertama dan kedua pada 12 dan 16 Maret. Namun, sejak 15 Maret atau lima hari sejak bertemu Sari yang pulang dari luar negeri, almarhum sudah mulai panas.

Irvan dan keluarga tetap membawa ayahnya terapi pada 16 Maret. Kondisi ayahnya memburuk pada 18 Maret dengan gejala mengarah ke Covid-19, yakni selain demam juga sesak napas. Keluarga akhirnya membawa almarhum kembali berobat ke RS Bethesda.

“Tanggal 18 Maret itu dokter yang jaga di Bethesda langsung nanya-nanya, ada enggak riwayat ke luar negeri atau bertemu orang dari luar negeri. Kami bilang ada adik saya dari Selandia Baru,” papar dia.

Petugas medis langsung memperlakukan pasien dengan standar Covid-19. Yakni ditempatkan di ruang isolasi, sedangkan petugas medis mengenakan alat pelindung diri (APD). Ayahnya dinyatakan Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

“Waktu itu kan RS Betehsda belum jadi RS rujukan. Jadi masuk ruang isolasi dengan ala-ala kadarnya. Cuma ada selang oksigen dan di sebelah bapak ada pasien TB. Boro-boro ada ventilator, monitor aja di ruangan itu enggak ada,” kata dia.

Tak Sesuai Kenyataan

Keluarga Irvan akhirnya meminta otoritas RS Bethesda agar ayahnya dirujuk ke RS rujukan Covid-19 di DIY agar tertangani dengan memadai. RS Bethesda, kata dia, sudah menelepon RSUP Dr Sardjito dan RSUD Panembahan Senopati Bantul yang menjadi RS rujukan Covid-19, t etapi ditolak dengan alasan ruang isolasi penuh.

“Saya lihat di Humas [media sosial Humas Pemprov DIY] kasus [Covid-19] baru 20 yang diperiksa. Terus dibilang penuh bagaimana ceritanya? Saya baru tahu ternyata data yang tersaji di medial sosial [Humas Pemda] dengan kondisi di lapangan berbeda. Itu hanya orang tertentu yang tahu selain petugas medis,” katanya.

Irvan sempat mengontak koleganya di RSUP Dr Sardjito apakah masih ada ruang isolasi, tetapi jawabannya sama, yakni penuh. Akhirnya lamarhum tetap bertahan di RS Bethesda. Esok harinya 19 Maret, pasien baru dipindahkan ke ruang isolasi yang lebih memadai.

Di RS Bethesda ayahnya sempat diambil sampel untuk pemeriksaan Covid-19 atau swab, yakni pada 19 dan 20 Maret. Esok harinya 21 Maret dini hari ayah Irvan dinyatakan meninggal dunia.

Respons Lambat

Setelah dinyatakan meninggal dunia, keluarga Irvan saat itu diberi dua pilihan oleh RS apakah jenazah yang telah dibersihkan dan dibungkus plastik serta dimasukkan di dalam peti akan langsung dibawa ke pemakaman atau singgah dulu ke rumah duka untuk disemayamkan dengan segala risiko yang terjadi diminta menjadi tanggung jawab keluarga. Keluarga, kata dia, akhirnya meminta jenazah ayahnya disemayamkan lebih dulu ke rumah duka dengan alasan statusnya masih PDP alias belum dinyatakan pasien positif Covid-19, serta adanya opsi yang diberikan otoritas RS.

Sejak ayahnya meninggal pada 21 Maret keluarga, kata dia, baru menerima hasil tes bahwa ayahnya positif Covid-19 pada 28 Maret melalui petugas puskesmas. Itu pun setelah ramai berita di media ayahnya positif Covid-19.

Namun Irvan juga menyayangkan, sampai saat itu pemerintah melalui petugas kesehatan tak pernah sekali pun mengambil sampel seluruh keluarganya untuk memastikan apakah terinfeksi Corona atau tidak. “Baru saja kami diminta ke puskesmas untuk menjalani rapid test itu kemarin ini [Selasa, 7/4]. Sejak bapak PDP sampai meninggal kami enggak pernah diambil sampelnya untuk dites,” kata dia.

Keluarga kata dia sampai kini tak percaya ayahnya positif Covid-19, sebab sampai sekarang seluruh keluarganya sehat, bahkan ibunya yang berusia 61 tahun sehat meski merawat ayahnya selama sakit.

"Di surat ini [surat hasil tes almarhum] sebenarnya dikasi kontak dokter untuk kami konsultasi tanya mengenai hasil lab itu, tapi kami telepon atau WA enggak pernah direspons. Harusnya kan Dinas Kesehatan melakukan pendekatan soal hasil tes bapak dengan memeriksa kami sekeluarga untuk dites swab juga. Misal kami positif berarti kemungkinan besar bapak memang positif. Tapi kan kami enggak pernah dites,” sesal dia.