Nahkoda Hilang Setelah Speedboat Terbelah di Teluk Tomini
Nahkoda speedboat yang tenggelam di Teluk Tomini masih dicari. Sebanyak 12 korban lain ditemukan selamat setelah bertahan di atas rakit.
Warga beraktivitas mengenakan masker. /Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, SLEMAN - Pada masa perpanjangan pembatasan sosial untuk mencegah Covid-19 hingga 28 April 2020, banyak masyarakat di Sleman yang sudah mulai melakukan aktivitas di luar rumah. Alasannya adalah faktor ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
"Pada dua minggu pertama kemarin saya memang berusaha mematuhi anjuran pemerintah untuk tidak keluar rumah, namun karena saat ini kondisi sudah habis-habisan ya saya terpaksa keluar rumah untuk kerja guna memenuhi kebutuhan keluarga," kata Mujiaman, 55, warga Kalasan yang berprofesi sebagai tukang bangunan di Sleman, Selasa (14/4/2020).
Menurut dia, pada dua minggu pertama memang kebutuhan keluarga masih dapat dipenuhi dengan uang simpanan, namun setelah tidak bekerja selama dua minggu akhirnya simpanan menipis dan hampir habis.
"Tapi meskipun harus keluar rumah untuk mencari uang, saya tetap berusaha mematuhi anjuran pemerintah untuk mencegah penyebaran virus corona dengan melindungi diri agar tidak terpapar virus," katanya.
Ia mengatakan, dirinya setiap keluar rumah juga selalu mengenakan masker, sering cuci tangan dan menjaga kebugaran tubuh.
"Ya siapapun pasti takut terkena corona, makanya saya juga berusaha melindungi diri agar tidak tertular," katanya.
Ia berharap jika memang tetap harus tinggal di rumah sementara waktu agar ada perhatian juga untuk pekerja nonformal yang selama pandemi COVID-19 ini tidak mendapat bantuan untuk kebutuhan sehari-hari.
"Saya lihat di berita-berita banyak bantuan diberikan untuk tukang ojek online, sebenarnya kami juga berharap dapat bantuan sehingga kami tidak harus keluar rumah saat wabah corona ini," katanya.
Hal sama juga disampaikan Didik, 40, pedagang mie Jawa di Jalan Solo Km11, Purwomartani, Kalasan, Sleman yang terpaksa harus mulai berjualan lagi setelah dua minggu menutup warungnya.
"Dua minggu libur, sama sekali tidak ada pemasukan. Kebutuhan keluarga di rumah banyak. Terpaksa harus jualan lagi," katanya.
Sementara itu suasana di pasar tradisional Pasar Desa Purwomartani di Jalan Solo Km 10.5 Sorogenen, Kalasan juga sudah mulai ramai aktivitas para pedagang dan pembeli.
Jika pada dua minggu pertama aktivitas pasar milik Pemerintah Desa Purwomartani ini sempat sepi akibat wabah Covid-19 dan kebijakan pembatasan sosial, saat ini para pedagang sudah mulai banyak yang berjualan.
Sejumlah pedagang bukan hanya produk kemasan, tetapi juga pedagang sayuran, makanan, pedagang daging dan ikan juga mulai beraktivitas.
Hanya saja, pedagang di Pasar Desa Purwomartani tersebut masih banyak yang tidak mengenakan masker. Hanya pedagang daging ayam dan ikan saja yang terlihat mengenakan masker.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Nahkoda speedboat yang tenggelam di Teluk Tomini masih dicari. Sebanyak 12 korban lain ditemukan selamat setelah bertahan di atas rakit.
Utang pemerintah melalui SBN mencapai Rp501,2 triliun hingga Juni 2026 atau 62,7% dari target APBN 2026.
Tiga remaja di Sragen menjadi korban curanmor bermodus mengaku petugas Banpol. Pelaku membawa kabur sepeda motor dan ponsel korban.
Kebakaran melanda Pasar Modern BSB Semarang. Diduga dipicu kebocoran tabung gas di warung soto, sebanyak 179 kios terdampak.
Cuaca ekstrem dan angin kencang membuat hasil tangkapan nelayan di pesisir selatan Gunungkidul turun hingga separuh dalam beberapa hari terakhir.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menuding Rusia berencana mendatangkan 30.000 tentara Korea Utara dan menambah kerja sama militer dengan Pyongyang.