Advertisement
Belajar Jarak Jauh selama Pandemi, Pengamat: Guru Jangan Berpangku Tangan
Seorang anak menyimak pembelajaran yang disiarkan melalui Televisi Republik Indonesia (TVRI) di Kelurahan Gladak Anyar, Pamekasan, Jawa Timur, Senin (13/4/2020). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyiapkan 720 episode untuk penayangan Belajar dari Rumah selama 90 hari untuk PAUD hingga SMA melalui TVRI. - ANTARA FOTO/Saiful Bahri
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA - Kebijakan belajar jarak jauh membuat seluruh lembaga pendidikan harus beradaptasi dengan cepat dengan teknis pembelajaran. Tantangan pendidikan yang belum selesai dalam metode tatap muka langsung seolah menjadi lebih berat ketika berlangsung dalam metode jarak jauh.
Pengamat pendidikan sekaligus Penasihat Dewan Pendidikan DIY, Profesor Wuryadi mengatakan guru saat mengajar langsung di sekolah saja masih menghadapi tantangan untuk membuat budaya pembelajaran dua arah. Begitu beralih ke metode daring atau jarak jauh, kebanyakan guru tidak siap.
Advertisement
"Guru mestinya harus tetap aktif dan bisa melakukan inovasi pendidikan melalui dialog," kata Wuryadi ketika dihubungi Harian Jogja pada Selasa (21/4/2020).
Ia juga menyebut masa pembelajaran jarak jauh ini justru digunakan para guru untuk sekadar memberikan materi lewat media daring tanpa membimbing siswanya untuk memahami materi tersebut. Padahal, guru harus siap berdialog dan membangun suasana belajar dua arah lantaran murid juga bisa menjadi sumber yang dapat mengajukan fakta dan persoalan.
"Masih mending kalau guru sadar [perubahan metode] itu tantangan, tapi banyak guru merasa ini masa liburan mereka. Mereka hanya kirim bahan, dimediakan, lalu berpangku tangan, tidak ikut campur dalam proses," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia juga melihat kendala juga dialami siswa lantaran belum terbiasa belajar sendiri. "Murid masih terbiasa belajar dengan pengawasan langsung guru. Sebenarnya orang tua memegang peranan penting, tapi kita tahu banyak orang tua buta teknologi," jelas dia.
Wuryadi menyayangkan kondisi siswa sekolah yang terlalu banyak menerima materi dan tugas, namun tidak dibimbing untuk memahaminya. Ia mengakui jika situasi ini darurat dan sulit, namun kondisi ini harus cepat diatasi oleh jawatan terkait dengan berkonsultasi dengan ahli pendidikan di universitas.
"Kalau ini berlangsung lama, saya duga terjadi kemunduran pendidikan. Jangka waktu pendidikan di sekolah menjadi harus lebih panjang," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Pembangunan Ratusan Sekolah Rakyat Dikebut, Ditarget Kelar Juli 2026
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Peningkatan Arus Balik Lebaran di Bantul, Jalan Tetap Lancar
- Satu Napi di Wonosari Langsung Bebas Setelah Dapat Remisi Lebaran
- Besok Masuk Kerja ASN Bantul Diminta Tancap Gas Meski WFA
- Stok Pangan di Jogja Melimpah Saat Permintaan Lebaran Naik
- Puncak Arus Balik Penumpang Kereta di Jogja Tembus Puluhan Ribu
Advertisement
Advertisement







