Jajar Legowo Sukses Diterapkan di Girimulyo

Ilustrasi pertanian - Harian Jogja/David Kurniawan
22 April 2020 08:47 WIB Catur Dwi Janati Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Sejumlah teknologi terus dikembangkan guna menggenjot produktivitas padi. Kali gini giliran Adaptasi Teknologi Spesifik Lokalita dijajal di salah satu wilayah di Girimulyo, Kulonprogo. 

Panen raya dan ubinan padi kegiatan Adaptasi Teknologi Spesifik Lokalita diterapkan di Kelompok Tani Sumber Rejeki Dusun Tileng, Kalurahan Pendoworejo, Kapanewon Girimulyo, Kulonprogo.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, Aris Nugraha yang dihubungi pada Selasa (21/4/2020) menjelaskan bahwa kegiatan Adaptasi Teknologi Spesifik Lokalita difasilitasi langsung oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta dan Unit Pelaksana Teknis Dinas Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (UPTD BPSDMP) Yogyakarta.

Aris menjelaskan salah satu teknologi unggulan yang diadaptasi kepada petani yakni sistem tanam jajar legowo super dengan integrasi berbagai aplikasi benih, dekomposer, pemupukan, dan pengendalian organisme penggangu tanaman. Menggunakan VUB Inpari 43 Agritan yang memiliki ketahuan terhadap hawar daun bakteri, padi ditanam dalam pada jarak 12,5 cm x 25 cm dengan jarak antar legowo 40 cm.

Aris mengatakan dengan skema ini populasi tanaman padi per hektar menjadi lebih banyak. Dengan skema jajar legowo super dengan sisipan di setiap 25 cm, populasi yang diperoleh mencapai 213.333 rumpun per hektar. Jumlah tersebut lebih banyak bila dengan penanaman cara tegel, dimana jumlah populasi hanya mencapai 160.000 rumpun per hektar. "Terjadi penambahan populasi lebih banyak sebesar 33,3%," ujarnya.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Pendoworejo, Sukiyanto menjelaskan tidak hanya penggunaan skema jajar legowo super, optimalisasi produksi juga dilakukan dengan penggunaan dekomposer dan pemupukan tepat guna. Dekomposer berperan dalam perombakan bahan organik dan mempercepat pengomposan jerami.

Tidak hanya mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, perlindungan tanaman dari organisme penggangu tanaman juga dilakukan dengan penanaman refugia dan pengamatan organisme penggangu tanaman secara rutin.

Sukiyanto menjelaskan tanaman refugia digunakan sebagai tempat hidup musuh alami hama wereng dan penggerek batang. Oleh karenanya di sekitar lahan persawahan ditanam refugia.

Kombinasi jajar legowo dengan berbagai aplikasi pemupukan dan pengendalian organisme penggangu tanaman terbukti mampu meningkatkan produktivitas padi. Aris menjelaskan, hasil panen yang dilakukan Kelompok Tani Sumber Rejeki Dusun Tileng pada Senin (20/4/2020) menghasilkan gabah sebanyak 8,29 ton/hektar. Jumlah tersebut jauh dengan rata-rata panen cara konvensional yang hanya mencapai 6,5 ton per/hektar.

Hasil ini membuat Aris merekomendasikan kombinasi jajar legowo dengan kombinasi berbagai aplikasi pemupukan dan pengendalian organisme penggangu tanaman kepada petani Kulonprogo. "Harapannya teknik jajar legowo super dengan integrasi beragam aplikasi ini bisa direplikasi oleh seluruh petani Kulonprogo agar bisa meningkatkan produksi beras," ujarnya.