Penanganan Covid-19, Nasdem DIY Langsung Gerak Cepat

Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Nasdem, Subardi (tiga kanan) menyerahkan bantuan kepada warga. - Ist
27 April 2020 13:57 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - DPW Partai Nasdem Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) langsung gerak cepat dalam menyikapi persebaran virus Corona penyebab Covid-19. DPW Nasdem DIY bergerak di atas politik kemanusiaan.

Memasuki pekan ke delapan, wabah Corona di Indonesia kini menjelma menjadi tragedi kemanusiaan. Corona merenggut nyawa dan kehidupan. Namun yang tidak hilang dari tragedi ini adalah harapan. Melalui secercah harapan, DPW Nasdem DIY bergerak di atas politik kemanusiaan.

Awal bulan Maret 2020, segala pemberitaan nasional memuat kasus sebaran wabah Corona di berbagai belahan dunia. Saat itu sejumlah kasus Corona ditemukan di Italia, Iran, Korea Selatan dan kawasan Cina Daratan. Di Indonesia kasus pertama yang dikonfirmasi pemerintah terjadi pada 2 Maret 2020, saat dua warga Depok dirujuk di RS Sulianti Saroso, Jakarta Utara.

Di Jogja, anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Nasdem, Subardi tak butuh waktu lama merespons berita virus penyebab Covid-19 tersebut. Selang tiga hari, di tanggal 5 Maret 2020, Mbah Bardi, saapan akrab Subardi, langsung meninjau kesiapan fasilitas kesehatan di RSUP Dr Sardjito. Kunjungan ini membuatnya “gerah” karena fasilitas kesehatan hanya bertumpu pada RS milik pemerintah seperti RSUP Dr Sardjito dan RS Panembahan Senopati.

Ia pun mendorong pelibatan RS swasta. Alasannya, kota yang rentan terpapar Corona adalah kota yang berbasis wisata.

“Penanganan penyakit yang mewabah tidak cukup mengandalkan rumah sakit pemerintah. Rumah sakit swasta harus dilibatkan sehingga tercipta kolaborasi sebagai RS rujukan,” ujarnya Mbah Bardi baru-baru ini. 

Gerak cepat Subardi berlanjut di tanggal 7 Maret 2020. Dia meninjau kawasan Malioboro yang merupakan episentrum pariwisata Jogja dengan jutaan pengunjung setiap harinya. “Saya mendesak adanya posko Corona di sini [Malioboro]. Bukan untuk menangani medis tetapi untuk sosialisasi, edukasi, dan persuasi serta informasi seputar protokol Corona agar semua paham bagaimana menjaga diri,” ungkap Subardi.

Apa daya, wabah Covid 19 kemudian menelan korban jiwa pada 24 Maret 20020. Guru Besar UGM yang riwayat perjalanan dari Jakarta, daerah zona merah Corona, menjadi korban jiwa pertama di Jogja.

Beberapa hari sebelum tercatat korban jiwa, Subardi selaku Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nasdem DIY menggerakkan perangkat organisasinya di lima kabupaten kota se-DIY. Fokus aksi adalah pencegahan, meliputi penyemprotan disinfektan, pembagian ribuan masker, dan pamflet info seputar pencegahan virus Corona.

Wilayah yang disasar antara lain tempat ibadah seperti masjid dan gereja, permukiman warga, jalan raya, hingga pasar tradisional. “Kami ingin upaya pencegahan disertai dengan penyadaran sosial. Jangan sampai jumlah pasien Corona bertambah,” jelas Subardi.

Sejak saat itu juga, lebih dari 500 kader Nasdem se-DIY bergerak. Aksi mereka selalu dalam pantauan praktisi kesehatan dan memegang aturan dalam protokol penanganan Corona. Setiap tim terdiri dari 3-5 orang yang dilengkapi alat pelindung diri. Tim ini bergerak mobile ke sejumlah titik di DIY.

Subardi sengaja merampingkan komposisi tim dan bergerak senyap agar tidak terjadi kerumunan massa. Bahkan, Subardi ikut turun langsung ke masyarakat sekadar untuk memberikan bantuan masker, hand sanitizer, disinfektan sekaligus alat penyemprotnya dan juga uang tunai kepada warga yang terdampak Covid-19.