Ikut Jemaah Tabligh hingga Kegiatan Gereja, Sejumlah Warga Bantul Positif Corona

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
28 April 2020 18:37 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL- Gugus Tugas Percepatan Penanganan Penularan Infeksi Coronavirus Disease atau Covid-19 Bantul menyatakan terdapat lima klaster penularan virus Corona yang terjadi di Bantul. Tiga pasien positif terbaru yang bertambah per Selasa (28/4/2020) masuk dalam klaster jemaah tablig akbar di Jakarta.

Kelima klaster penularan Covid di Bantul selain klaster jemaah tabligh akbar Jakarta adalah klaster Ijtima Gowa Sulawesi Selatan; klaster Gereja GPIB Ngupasan Jogja; klaster Magetan Jawa Timur; dan klaster Caturtunggal Depok Sleman yang masih berhubungan dengan jemaah tabligh akbar Jakarta.

“Lima klaster [penularan Covid-19 di DIY] ini sudah terjadi di Bantul, ada kelimanya,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Penularan Infeksi Covid-19 Bantul, Sri Wahyu Joko Santoso, di Dinas Kesehatan Bantul, Selasa (28/4/2020).

Sri Wahyu mengatakan untuk pasien positif terbaru merupakan klaster jemaah tablig akbar Jakarta sebanyak tiga orang. Ketiga orang tersebut semuanya adalah warga Kecamatan Banguntapan dan satu rombongan jemaah tabligh akbar Jakarta dengan yang terjadi di Caturtunggal Depok Sleman, dan Gamping Sleman.

Temuan baru klaster tabligh akbar Jakarta tersebut langsung ditindaklanjuti dengan penelusuran semua yang berkontak erat dengan tiga orang tersebut. Pada Senin (27/4/2020) Puskesmas Banguntapan sudah menjaring sebanyak 15 orang yang diduga kontak erat dan langsung dilakukan tes cepat melalui rapid test. Hasil rapid test pertama dinyatakan negatif dan akan kembali dilakukan tes pada 10 hari ke depan.

Kemudian pada Selasa (28/4/2020) proses penelusuran diperluas. Menurut Oky-sapaan akrab Sri Wahyu Joko Santoso, tidak hanya yang berkontak erat di tempat tinggal yang ditelusuri, namun juga pada jemaah masjid yang diduga pernah bersinggungan dengan tiga pasien.

“Tak semua yang bersinggungan dilakukan rapid test tapi dilakukan penyelidikan epidemologi dulu sejauh mata kontak erat dengan pasien terkonfirmasi positif, misalnya punya riwayat mengobrol atau jabat tangan, kontak badan lainnya akan jadi perioritas,” ujar Oky.