Pembelajaran Jarak Jauh Bikin Belajar Praktikum Tak Maksimal

Pelajar SMK Binatama menunjukkan produk keperawatan hasil karyanya dalam Pameran Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK 2018, Senin (7/8/2018). - Harian Jogja/Sunartono
12 Mei 2020 02:47 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Persentase belajar praktik lebih besar daripada teori dalam pendidikan vokasi. Namun, sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dijalankan di tengah pandemi Covid-19 membuat hal itu sulit diwujudkan.

Kepala SMKN 3 Yogyakarta, Bujang Sabri membenarkan hal ini. Kondisi ini dirasanya menjadi tantangan tersendiri bagi SMK. Kepada siswanya, pihaknya baru bisa memfasilitasi materi yang bersifat teori selama PJJ.

"Yang bisa dilakukan dalam PJJ hanya secara teori, sedangkan praktiknya tidak bisa dilaksanakan saat ini," kata dia pada Senin (11/5/2020).

Menurutnya, jika keadaan sudah memungkinkan, maka kelas praktik akan tetap dilakukan dengan menerapkan protokol pencegahan Covid-19. Meski begitu, jika kondisi belum membaik hingga akhir tahun ajaran ini, maka siswa akan diberi review materi dan kelas praktik pada awal tahun ajaran baru mendatang.

Dihubungi terpisah, Kepala SMKN 2 Jogja, Dodot Yuliantoro juga menyampaikan kendala serupa. PJJ di sekolah ini yang dilakukan melalui Google Classroom, Whatsapp, dan Moodle sulit memfasilitasi pembelajaran praktikum.

"Untuk praktik, sementara praktis hanya diberikan semacam video tutorial," kata dia. Meski begitu, menurutnya untuk siswa selain jurusan Mesin dan Otomotif masih bisa menggunakan aplikasi untuk menempuh praktikum.

Sebelumnya, Kabid Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan Disdikpora DIY, Didik Wardaya mengakui jika ada kemungkinan target pembelajaran tidak tuntas lantaran perubahan metode belajar dari tatap muka ke daring. Ia akan melakukan evaluasi dengan jajaran Disdikpora DIY dan tingkat kabupaten/kota jika nantinya ada target pembelajaran yang tidak tercapai pada tahun ajaran ini.

Menurutnya, tidak menutup kemungkinan pada minggu-minggu awal tahun ajaran baru mendatang siswa diajak mengulang materi yang belum selesai pada tahun ajaran ini.

"Bisa jadi di minggu-minggu awal semacam mengungkap kembali materi-materi yang sebenarnya sudah terlewati, bisa juga semacam matrikulasi dalam dua minggu pertama [tahun ajaran baru]. Itu saya kira memungkinkan sekali jika dari hasil evaluasi PJJ mungkin belum maksimal, supaya ketuntasan pembelajaran anak itu bisa juga tercapai," paparnya.

Meski begitu, saat ini ia belum mengharuskan seluruh sekolah untuk menerapkannya dan akan merumuskannya dalam rapat evaluasi terlebih dahulu. Namun, Didik menekankan jika seluruh pihak harus tetap menjaga kualitas pendidikan di DIY meskipun dalam pandemi Covid-19.