Antisipasi Kemarau, ACT DIY Resmikan Lagi 7 Titik Sumur Wakaf di DIY

Sumur wakaf ACT DIY - Ist
18 Mei 2020 19:57 WIB Media Digital Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Dampak kemarau tahun ini benar-benar diantisipasi oleh Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) DIY, pasalnya hampir setiap datang musim kemarau beberapa wilayah seperti Gunungkidul dan Bantul sering terjadi krisis air bersih, Senin (18/5/2020).

Melalui Brand Global Wakaf – ACT DIY, pembangunan Sumur Wakaf terus digiatkan untuk meredam dampak kemarau yang tahun ini diperkirakan BMKG DIY terjadi mulai bulan Mei 2020, dan puncaknya pada Bulan Agustus 2020 mendatang.

Dinamai sebagai Sumur Wakaf karena terinspirasi dari kedermawanan Utsman Bin Affan saat mewakafkan sumur Raumah 14 abad lalu di Kota Madinah, dimana hingga hari ini air bersihnya terus mengalir untuk kebermanfaatan masyarakat di Madinah.

“Berkat kepercayaan dari para Pewakif, hingga saat ini ACT DIY telah membangun 28 unit Sumur Wakaf di DIY, selain juga karena kebermanfaatannya yang luar biasa bagi masyarakat untuk memudahkan akses air bersih, juga sebagai edukasi kita bersama bahwasannya Wakaf itu selain pahalanya terus mengalir juga kebermanfaatannya nyata dirasakan,” ujar Bagus Suryanto, Kepala Cabang ACT DIY, melalui rilis, Senin (18/5/2020).

Di bulan Ramadan kali ini, ACT DIY telah meresmikan sejumlah titik Sumur Wakaf yang berlokasi di Desa Mertelu Kecamatan Gedangsari, Desa Plembutan Kecamatan Playen, Desa Watusigar Kecamatan Ngawen, dan Desa Sumberejo, Desa Bendung, Desa Candirejo di Kecamatan Semin.

Selain itu, kabar gembira juga terdengar dari Desa Muntuk Kecamatan Dlingo, Bantul. Pembangunan sumur wakaf yang dimulai awal Ramadhan lalu telah membuahkan hasil. Daerah yang dipenuhi bebatuan keras ini juga telah berhasil di bor dan mengeluarkan air di kedalaman 80 meter, sehingga total Sumur yang telah selesai pengerjaannya bulan Ramadhan ini mencapai 7 titik yaitu di Bantul dan Gunungkidul.

Sumur Wakaf di Dlingo, Bantul ini dibangun di lingkungan Sekolah MTSN 8 Bantul, ceritanya sekolah ini selalu kesulitan air bersih saat musim kemarau tiba, “bahkan hanya untuk keperluan berwudhu saja anak-anak harus menempuh perjalanan dua kilometer ke sumber air, rata-rata sumur galian milik sekolah dan warga sekitar pada mengering” ujar Puji, Guru MTSN 8 Bantul.

Kondisi serupa juga dirasakan masyarakat di Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul, dampak musim kemarau tahun lalu membuat masyarakat setempat sangat kekurangan air bersih. “Untuk kebutuhan air sehari-hari saja jika tidak ada bantuan air bersih dari pemerintah, warga sini harus membeli dari truk tangki swasta hingga 350 ribu rupiah per tangkinya,” ungkap Subardi (45) warga setempat.

Sumur Wakaf yang dibangun di Desa Mertelu kali ini memiliki kedalaman 65 meter dan dilengkapi dengan pompa air jenis jet pump serta torn penampungan berkapasitas 5000 liter. Selain itu secara bergantian warga juga turut mengalirkan air melaui pipa-pipa ke rumah masing-masing.

“Mohon do’a dan dukungan sahabat dermawan semua, agar kami dapat terus membangun sumur wakaf agar saudara kita tak lagi kesulitan air bersih. Setelah ini kami juga akan membangun sumur wakaf di Desa Salam - Patuk, Desa Tegalrejo – Gedangsari, Desa Pacarejo – Semanu dan akan terus membangun sumur wakaf dengan target minimal 4 sumur setiap bulannya,” tutup Bagus.