Raih Adipura 2021 Jadi Target yang Berat untuk DLH Gunungkidul

Ilustrasi pengelolaan sampah melalui bank sampah - JIBI
18 Mei 2020 20:07 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul menilai upaya meraih Adipura di 2021 merupakan target yang berat. Salah satu kendalanya yakni masalah pengelolaan sampah yang dinilai masih jauh dari batas aman untuk mendapatkan penghargaan tersebut.

Sekretaris DLH Gunungkidul, Aris Suryanto, mengatakan Pemkab sudah mencanangkan target untuk meraih Adipura di 2021. Namun demikian, ada tantangan yang harus diselesaikan agar bisa mewujudkan mimpi tersebut.

Menurut dia, ada beberapa kendala yang harus diselesaikan. Hal ini dibutuhkan agar saat penilaian bisa memenuhi kriteria yang telah ditentukan oleh Pemerintah Pusat. “Memang berat, apalagi ada aturan dalam penilaian yang diubah. Tetapi kami tetap berusaha mewujudkannya,” kata Aris, Senin (18/5/2020).

Ia menjelaskan ada dua faktor dalam penilaian Adipura. Selain pengelolaan sampah menggunakan sistem sanitary landfill, juga mengacu pada penanganan sampah di masyarakat. Untuk sanitary landfill tidak ada masalah karena pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Wukirsari, Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari, sudah menggunakan teknologi ini.

Hanya saja, permasalahan muncul untuk penanganan sampah. Apabila mengacu pada penilaian Adipura, maka sampah yang dikelola paling sedikit harus mencapai 60% dari keseluruhan sampah yang dihasilkan di Gunungkidul. Indikator inilah yang menjadi beban dalam upaya meraih Adipura karena hingga saat ini penanganan masih di kisaran 20%. “Ini yang menjadi kendala dalam penanganan selama dua tahun ini sehingga Adipura belum bisa diraih,” katanya.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul, Agus Priyanto. Menurut dia, pengelolaan sampah di TPAS Wukirsari, Baleharjo, mendapat apresiasi dari Pemerintah Pusat. Meski demikian, pengelolaan itu belum bisa merepresentasikan pengelolaan sampah di Gunungkidul secara keseluruhan. “Penanganan sampah belum bisa optimal, apalagi dengan cakupan wilayah yang sangat luas,” kata Agus.

Menurut Agus, upaya penanganan tidak serta merta menjadi tugas dari DLH. Pasalnya, partisipasi dari masyarakat juga sangat dibutuhkan. Untuk penanganan berbasis masyarakat akan dikembangkan model jaringan pengelolaan sampah mandiri melalui program bank sampah. Ia menuturkan program ini efektif dalam penanganan sampah di Gunungkidul.