Pandemi Covid-19: Bosan di Rumah Saat Malam Lebaran, Banyak Orang Nongkrong di Alun-Alun & Penuhi Jalanan Jogja

Keramaian di Titik Nol pada malam Lebaran, Sabtu (23/5/2020). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
24 Mei 2020 01:17 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Malam Lebaran di Jogja cukup ramai meski takbir keliling ditiadakan, Sabtu (23/5/2020). Di Tugu Jogja, Jl. Malioboro, Titik Nol, Alun-Alun Selatan. dan Alun-Alun Utara, volume kendaraan cukup tinggi. Di Jl. Malioboro sempat terjadi kemacetan karena banyaknya kendaraan roda dua maupun empat yang melintas.

Di Alun-alun Utara dan Alun-Alun Selatan, banyak orang kongko sehingga disuruh pergi oleh Satpol PP. Ketua Tim Operasi Wastibum Covid-19, Ibnu Muhammad, mengatakan keramaian merata mengelilingi trotoar Alun-alun Selatan. “Waktu kami datang ramai sekali, banyak motor dan mobil parkir berjajar di sini,” ujarnya.

Ibnu bersama tim gabungan akhirnya berulang kali mengitari kawasan tersebut sambil membubarkan kerumunan melalui pengeras suara. Beberapa pengunjung ada yang proaktif, seketika bubar ketika diberi arahan. Namun ada pengunjung yang ketika didatangi hanya berpindah dari satu titik ke titik lainnya di seputaran Alun-alun. "Kami tidak menyerah, terus kami sampaikan arahan sampai akhirnya barang kali kupingnya [pengunjung] panas lalu pergi," jelasnya.

Butuh waktu sekitar 30 menit bagi petugas Satpol PP untuk membuat situasi Alun-Alun Selatan kembali lengang. Menurut Ibnu berbagai alasan dilontarkan pengunjung saat ditanya alasan mereka nongkrong di Alun-Alun. "Ada yang katanya habis belanja mampir, ada yang sama sekali enggak jelas juntrungannya duduk-duduk di alun-alun, kami bubarkan semua," katanya.

Berdasarkan pantauan Ibnu, dari pukul 19.30 WIB sampai dengan sekitar pukul 21.30 tidak ditemukan satu pun takbir keliling. Keramaian justru ditemukan di jalan dan beberapa titik. Pengunjung di Alun-Alun Selatan paling ramai sejak adanya operasi pencegahan Covid-19 pada pertengahan Maret.

Saat operasi, Ibnu banyak menemukan para pengunjung yang tidak menggunakan masker. "Silakan beraktivitas keluar, belanja sesuai kebutuhan, tidak dilarang selama tetap mengikuti protokol kesehatan, kalau cuma sekadar nongkrong ya lebih baik di rumah," ujarnya.

Salah satu pengunjung Alun-Alun Utara, Prana mengaku jenuh hanya di rumah. Desa tempatnya tinggal tidak mengadakan takbir keliling karena mematuhi aturan. Guna melepas kebosanan ia bersama satu temannya keliling jogja mengendarai motor dan berhenti di Alun-Alun Utara. "Bosan, jalan-jalan untuk menikmati malam takbiran dan menenangkan pikiran," ujarnya.

Kebosanan juga menjadi dalih salah satu pengunjung lain di kawasan Titik Nol. Oca, mahasiswi asal Lampung yang tidak bisa pulang mengaku jenuh hampir tiga bulan tidak main. "Baru kali ini main, sebelumnya keluar cuma beli kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Meski demikian ia mengaku tidak berencana berpergian jauh. Oca pun hanya akan memutuskan pulang ke kampung halaman bila pandemi Covid-19 sudah selesai.

Hingga pukul 22.30 WIB, hanya ada tiga iring-iringan takbir keliling. Satu mobil pikap dan satu iring-iringan motor di area Titik Nol sekitar pukul 21.15 WIB. Sementara satu konvoi takbir keliling juga terpantau di Alun-Alun Selatan sekitar pukul 21.30 WIB.

Kepala Seksi Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas, Dinas Perhubungan (Dishub) Jogja, Harry Purwanto mengatakan terjadi lonjakan volume kendaraan pada malam Lebaran.

“Hari ini baru terjadi, hari sebelumnya volume kendaraan tidak sebanyak ini,” kata Harry saat ditemui pada Sabtu malam di Titik Nol Jogja.

Namun, kenaikan volume kendaraan menjelang Lebaran tahun ini tidak sebanyak tahun sebelumnya. Tahun lalu, petugas harus memberlakukan penutupan jalan di sejumlah titik, tetapi sekarang cukup dengan rekayasa lampu lalu lintas.

“Kami tambahkan durasi lampu hijau di Titik Nol sebanyak lima detik, hal itu sudah cukup mengurai kemacetan,” ujar dia.

Dishub Jogja tidak menemukan takbir keliling sampai pada pukul 21.00 WIB. “Sama sekali tidak ada, baik yang menggunakan kendaraan roda empat, maupun iring-iringan konvoi kendaraan roda dua,” ujarnya.

Harry menduga ramainya lalu lintas pada malam takbiran karena kejenuhan warga. Mayoritas toko sudah tutup, sehingga masyarakat yang keluar pada malam hari tidak bertujuan untuk belanja. “Mungkin momennya malam Minggu, selesai Ramadan, takbiran, sudah tidak ada tarawih akhirnya pada keluar,” ucapnya.