Pelaku Teror Diskusi Pemberhentian Presiden Catut Muhammadiyah, Busyro: Teror Ecek-Ecek Ini..

UII menggelar konferensi pers pernyataan sikap terhadap intimidasi civitas akademika yang terlibat dalam diskusi tentang Pemberhentian Presiden di Kampus UII Jalan Cik Di Tiro, Jogja, pada Jumat (30/5/2020) - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri.
30 Mei 2020 17:57 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Dosen Fakultas Hukum UII sekaligus Ketua Bidang Hukum PP Muhammadiyah, Busyro Muqoddas beranggapan teror yang ditujukan kepada civitas akademika yang terlibat dalam diskusi "Persoalan Pemecatan Presiden di Tengah Pandemi Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan" tergolong teror berlapis dan menunjukkan cara kerja yang ecek-ecek.

Busyro mengatakan kegiatan diskusi tersebut merupakan kesadaran akademik lantaran kampus sebagai pusat kepemimpinan dan pemberdayaan masyarakat. Ia menyesalkan dalam situasi saat ini ada yang menggiring opini bahwa diskusi tersebut adalah tindakan makar.

"Ini pembunuhan kepada demokrasi dan penghinaan kepada dunia kampus dan dunia akademisi," kata Busyro dalam konferensi pers di Kampus UII Jalan Cik di Tiro Jogja, Sabtu (30/5/2020).

Teror yang diterima berupa rumah narasumber didatangi orang tak dikenal dan digedor gerbangnya. Selain itu, teror juga berupa pesan teks yang mengatasnamakan Ormas Muhammadiyah Klaten yang bertuliskan sebagai berikut.

"Halo pak. Bilangin tuh ke anaknya ******* Kena pasal atas tindakan makar. Kalo ngomong yg beneran dikit lahhh. Bisa didik anaknya ga pak!!! Saya dari ormas Muhammadiyah klaten. Jangan main main pakk. Bilangin ke anaknya. Suruh datang ke polres sleman. Kalo gak apa mau dijemput aja? Atau gimana? Saya akan bunuh keluarga bapak semuanya kalo gabisa bilangin anaknya.”

Busyro menuturkan hal itu merupakan suatu bentuk teror berlapis. Teror yang pertama menyerang narasumber yang diteror di rumahnya. Teror kedua menurutnya melalui pesan teks yang mengatasnamakan Muhammadiyah Klaten.

"Teror kedua itu levelnya PAUD, bukan hanya TK tapi PAUD, karena Muhammadiyah itu sektor utamanya pencerahan dan pendidikan dengan 15 ribu sekolah dari TK sampai perguruan tinggi," kata dia.

Hal itu dianggapnya tak tepat lantaran dunia akademik merupakan dunianya Muhammadiyah. "Jadi menarik-narik Muhammadiyah Klaten itu cara-cara PAUD yang menunjukkan cara kerja yang ecek-ecek. Terorizing pertama ecek-ecek, yang kedua ecek-ecek," ujarnya.

Hingga saat ini ia belum mendapatkan statement dari Muhammadiyah Klaten. "Mungkin Muhammadiyah Klaten saat ini sedang membahasnya, kita tunggu saja statementnya," ucapnya.