Geram Warga Tak Patuh Protokol Covid, Sultan: Jangan Sampai Saya Tutup Malioboro

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X Berbicara soal penyakit yang disebabkan virus corona SARS-CoV-2. - Ist/Youtube Humas Jogja
08 Juni 2020 17:37 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Malioboro dan sejumlah titik di Kota Jogja yang dipadati ribuan pesepeda pada Sabtu (6/6/2020) malam dan Minggu (7/6/2020) pagi disayangkan banyak pihak, termasuk Gubernur DIY, Sri Sultan HB X. Jika masyarakat tidak mau mematuhi protokol kesehatan, bukan tidak mungkin pihaknya akan menutup Malioboro.

Sri Sultan HB X menceritakan pada saat terjadi keramaian itu, ia sedang keluar dan kebetulan lewat malioboro. “Di Malioboro mereka kongkow, duduk tanpa memakai masker. Saya sudah telepon Pak Heroe [Wakil Wali Kota Jogja] dan Sekda untuk menertibkan mereka yang enggak pakai masker,” ujarnya, Senin (8/6/2020).

Ia menuturkan jika terjadi penularan covid-19 di Malioboro, tracingnya akan sulit karena ada ribuan orang di situ, apalagi kemungkinan ada orang yang dari luar daerah. “Jangan sampai saya close [Malioboro]. Jangan sampai terjadi Covid kedua, itu yang harus kita hindari. Kita minta kesadaran masyarakat,” tegasnya.

Selain pengunjung, ia juga meminta pelaku usaha baik pedagang kaki lima (PKL) maupun toko untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan dan menyediakan tempat cuci tangan yang bisa digunakan pengunjung. “Kalau minggu depan masih ada akan dibubarkan. Kami akan menempuh jalan itu karena resikonya terlalu besar,” katanya.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji, mengungkapkan penutupan Malioboro bisa saja menjadi sebuah kebijakan. Tidak perlu menunggu terjadi kasus positif di malioboro, jika masyarakat tidak mau patuh sehingga diprediksi terjadi penularan, bisa langsung ditutup.

Ia menegaskan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY saat ini masih menerapkan status masa tanggap darurat. “kami paham masyarakat bosan di rumah, tapi kami buka pelan-pelan bukan untuk keperluan itu [nongkrong], tapi ekonomi dan UMKM [Usaha Mikro Kecil Menengah] dengan protokol kesehatan,” ungkapnya.

Hal ini bukan berarti pihaknya melarang masyarakat yang ingin berolahraga. Menurutnya, boleh saja berolahraga, asal tidak menimbulkan kerumunan. Jika keramaian terus terjadi tanpa mengindahkan protokol kesehatan, bisa jadi new normal mundur.

Menindaklanjuti banyaknya pesepeda di Malioboro, ia telah berkoordinasi dengan Satpol PP sebagai Pengamanan dan Penegakan Humum Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY untuk membubarkan mereka yang berkerumun dan menyuruh pulang mereka yang tidak memakai masker.