Persoalan Sampah Makanan Perlu Jadi Perhatian

Logo BPOM/Ist
19 Juni 2020 19:17 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Keberadaan sampah makanan perlu menjadi perhatian bersama karena berdampak buruk pada lingkungan.

Sampah Makanan atau food waste adalah penurunan kuantitas atau kualitas pangan akibat proses atau tindakan yang tidak sesuai oleh produsen, distributor maupun konsumen (sumber FAO).

Etty Rusmawati dari STP Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Yogyakarta menyatakan untuk produsen, food waste lebih ke arah penyimpangan prosedur sehingga produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Meskipun produk akhir bisa direformulasi, namun bisa juga menjadi produk reject dan dianggap sebagai produk gagal atau sampah industri sehingga harus dibuang.

Penerapan cara produksi pangan yang baik atau Good Manufacturing Practice secara konsisten, merupakan tindakan preventif, pencegahan food waste di tingkat produsen.

Untuk distributor, food waste bisa terjadi karena kesalahan penanganan saat penyimpanan atau saat pengiriman ataupun saat displai produk.

"Kesalahan ini menyebabkan produk menjadi menurun kualitasnya sehingga akhirnya dibuang karena sudah tidak sesuai dengan kondisi awal penyimpanan," kata Etty Rusmawati melalui rilis, Jumat (19/6/2020). Penerapan cara distribusi pangan yang baik atau Good Distribution Practice diharapkan mampu mengurangi penurunan kualitas selama proses distribusi.

Untuk konsumen food waste disebabkan oleh berbagai hal, dan ini yang paling banyak terjadi. Menurut FAO, food waste mengacu kepada makanan yang dibuang dimana produk makanan tersebut masih aman dan bergizi untuk dikonsumsi.

Jadi food waste sendiri merupakan makanan yang siap dikonsumsi oleh manusia, namun dibuang tanpa alasan atau makanan tersebut telah mendekati masa kadaluarsanya.

Kesalahan utama konsumen yang menyebabkan terjadinya food waste adalah membeli tidak sesuai kebutuhan tetapi mengikuti keinginan, sehingga terjadi penumpukan makanan yang akhirnya tidak sempat dikonsumsi.

"Food waste juga bisa terjadi karena gengsi yang tinggi, ketika sedang menjamu keluarga atau teman maka dihidangkanlah berbagai macam menu untuk menaikkan harga diri atau kebanggaan pribadi, namun akhirnya tidak termakan karena semua sudah kekenyangan," kata dia.

Selama ini sebagian masyarakat memiliki perilaku  food waste tanpa pernah menyadarinya, sehingga permasalahan ini terus bergulir tanpa adanya penanganan serius. Adanya sisa makanan  yang dibuang oleh setiap masyarakat sebagai suatu perilaku yang buruk.

Memang dampak negatif tidak dirasakan secara langsung oleh masyarakat, namun jika dampak tersebut terus terjadi, akan menjadi bom waktu yang siap meledak.

Terdapat 13 juta ton sampah makanan per tahun di Indonesia yang apabila dikelola dengan baik dapat menghidupi 28 juta orang, angka tersebut hampir sama dengan jumlah penduduk miskin atau sekitar 11% dari populasi Indonesia (Sumber BPS 2015).

Bukan hanya sampah plastik, keberadaan food waste juga dapat berkontribusi penuh pada krisis lingkungan. Menurut  data dari FAO, sepertiga makanan yang dihasilkan tidak berakhir di piring kita tetapi dibuang ke tempat sampah.

Lantas apa yang harus kita lakukan ?

Masyarakat Indonesia masih dalam tahap edukasi mengenai kesadaran pengelolaan dan minimalisasi food waste. Dibutuhkan kampanye dan aksi yang lebih nyata untuk menanggulangi persoalan ini, kampanyepun tidak akan berhasil jika tidak dimulai dari diri sendiri.

Oleh karena itu, mulai saat ini terapkan pola-pola pencegahan food waste, yaitu dengan

1) Batasi jumlah (beli, masak dan konsumsi pangan dalam jumlah secukupnya,

2) FIFO dan FEFO (terapkan prinsip first in first out atau first expire first out)

3) Berbagi Pangan (berbagi dengan yang membutuhkan)

4. Manfaatkan pangan sisa (sisa pangan untuk pupuk kompos),

5. Terapkan Cek KLIK setiap akan membeli produk pangan.

Cek Kemasan, hal ini adalah salah satu tahap penting yang harus dilakukan oleh konsumen sebelum membeli produk.

Jangan sampai kemasan sudah cacat namun tidak terlihat, sehingga produk pangan menjadi rusak sebelum sempat dicicipi.

Cek label dan ijin edar untuk meningkatkan kepedulian, bahwa membuang sampah makanan bisa dihindari dengan memeriksa sebelum membeli produk pangan.

Kecewa jika ternyata terdapat komposisi yang harus dihindari, dapat dicegah dengan membaca label terlebih dahulu.

Cek Kadaluwarsa digunakan untuk meminimalisir sampah makanan, yang dapat dilakukan jika punya kebiasaan menyimpan makanan. Memilih produk dengan umur simpan yang masih panjang, akan sangat membantu, sehingga makanan tidak terbuang karena belum sempat dikonsumsi sudah kadaluwarsa.

Sejalan dengan Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day), isue food waste kembali diangkat untuk menggugah masyarakat, agar meningkatkan kepedulian terhadap sampah makanan. Keamanan Pangan tidak dapat terwujud jika terjadi penumpukan sampah makanan di lingkungan sekitar.

Sebaliknya keamanan pangan bisa terwujud jika lingkungan bersih, bebas dari sampah terutama sampah makanan yang mengundang cemaran mikrobiologi.

Akhirnya food waste awareness digunakan untuk mencegah dan mengatasi food waste problem. Kepedulian dan memperbaiki sikap akan sangat membantu mengurangi food waste.